Buta Locaya (Rengeng rengeng lirih ngantuk)

Tempat perjumpaan ini kuberi nama Singkal di sebelah utara dan di sini
bernama Desa Sumbre.
Sedangkan tempat kawan-kawanmu di selatan kuberi nama Kawanguran.”

Debat Soal Tuhan
Setelah berkata demikian, Sunan Bonang meloncat ke arah Timur sungai.
Terkenal sampai kini di Kota Gedah ada desa yang bernama Singkal, Sumbre dan
Kawanguran.
Kawanguran artinya pengetahuan, Singkal artinya susah kemudian menemukan
akal.

Buta Locaya memburu kepergian Sunan Bonang, yang menyaksikan arca Kuda yang
berkepala dua di bawah pohon Trenggulun.
Banyak buah trenggulun yang berserakan.
Sunan Bonang kemudian memegang parang dan kepala arca Kuda itu dipenggalnya.

Ketika Buta Locaya melihat Sunan Bonang memenggal kepala arca itu, semakin
bertambahlah kemarahannya.

” Arca itu buatan sang Prabu Jayabaya sebagai lambang tekad wanita.
Kelak di zaman Nusa Srenggi, barang siapa yang melihat arca itu, akan
mengetahui tekat para wanita Jawa.

Sunan Bonang pun berkata,
” Kau ini bangsa hantu.
Jadi kalau berani berdebat dengan manusia, namanya hantu yang sombong.

” Apa bedanya.
Tuan Sunan, saya ratu Hantu,”
kata Buta Locaya

Sunan Bonang berkata,
Trenggulun ini kuberinama Kentos sebagai peringatan kelak, bahwa aku berdua
debat dengan hantu yang sombong tentang kerusakan arca.

Ki Kalamwadi berkata :
” Terkenal sampai kini, buah trenggulun bernama kentios karena ucapan Sunan
Bonang.
Semua itu menurut cerita guruku menurut cerita guruku bernama Raden Budi.

Sunan Bonang kemudian berjalan ke utara.
Ketika menjelang salat asar, beliau akan bersiap salat.
Di luar desa ada sumur tetapi tiada timba.

Sumur itu kemudian digulingkan.
Dengan begitu Sunan Bonang dapat bersuci untuk bersalat.
Terkenal sampai sekarang, sumur itu bernama sumur gumuling.”

Setelah salat, Sunan melanjutkan perjalanan.
Sesampai di desa Nyahen, ada patung raksasa perempuan berada di bawah pohon
dadap yang berbunga.
Sangat banyak dan berguguran di sekitarnya.
Patung raksasa itu kelihatan merah menyala, marak oleh bunga yang
berjatuhan.

Melihat patung itu, Sunan Bonang keheranan.
Patung itu berukuran sangat besar.
Arca itu tampak duduk ke arah Barat setinggi 16 kaki.
Lingkar pinggulnya 10 kaki.
Jika dipindahkan tidak akan terangkat oleh 800 orang kecuali dengan alat.
Bahu kanannya dipatahkan, dan dahinya diludahi.

Buta Locaya marah lagi.
” Tuan ternyata orang jahil, patung yang masih baik dirusak tanpa alasan.
Kini menjadi jelek.
Padahal patung itu karya Sang Prabu Jayabaya.
Apakah hasilnya bila tuan merusak patung itu ?”

” Patung itu kurusak agar tidak disembah banyak orang, agar tidak diberi
sesaji dan diberi kemenyan.
Orang yang memuja berhala itu kafir, rusak lahir batin.”

Kata Buta Locaya,
” Orang Jawa kan sudah tahu bahwa itu patung dari batu yang tidak berdaya
dan berkuasa.
Bukan Tuhan, maka mereka layani.
Diberi nyala kemenyan, diberi sesaji, agar para hantu tidak menempati tanah
dan kayu yang dapat menghasilkan untuk manusia.

Para hantu mereka tempatkan di patung itu, lalu tuan usir ke mana ?
Telah lazim setan tinggal di gua, arca, dan makan bau-bauan harum.
Bila menyantap bebauan harum, hantu akan merasa nyaman.

Lebih senang lagi bila tinggal di patung yang utuh.
Di tempat sepi dan rindang atau di bawah pohon besar.
Mereka menyadari bahwa alam halus berbeda dengan alam manusia.”

Sunan Bonang Khilaf
Buta Locaya berkata,
” Nabi itu kan manusia kekasih Tuhan ?
Mendapat wahyu agar pandai.
Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi.

Sedangkan yang membuat arca Batu adalah Prabu Jaya Baya, kekasih Tuhan pula,
mendapatkan wahyu mulia.
Dia pun pandai dan kaya ilmu.
Awas penglihatannya, mengetahui hal-hal yang belum terjadi.

Tuan perpedoman kitab, orang Jawa pun berpedoman petuah dari para
leluhurnya.
Sama-sama menghargai kabar, lebih baik menghargai kabar dari leluhur sendiri
dengan peninggalan masih bisa disaksikan.

Pulau Jawa ini tanah suci dan mulia, dingin dan panasnya cukup.
Tanah berpasir murah air.
Apa saja ditanam dapat tumbuh.

Pria tampak tampan, wanita kelihatan cantik, serba luwes tutur katanya.
Bila tuan ingin melihat pusat dunia, yang hamba duduki inilah adanya.
Silakan tuan ukur.
Seandainya tidak benar, pukullah.

Yang membuat arca itu adalah tuanku Prabu Jayabaya.
Dapatkah tuan menebak sesuatu yang belum terjadi ?
Sudahlah, hamba persilakan tuan pergi dari sini.

Bila menolak akan hamba panggilkan adik hamba dari Gunung Kelud.
Tuan akan kami keroyok.
Dapatkah tuan menang ?

Lalu akan hamba bawa ke dalam kawah gunung Kelud, apakah tuan tidak susah ?
Inginkah tuan tinggal di Batu seperti hamba ?
Mari ke Selabale menjadi murid hamba.”

Sunan Bonang :
” Tak sudi mengikuti kata-katamu.
Kau hantu brekasaan.”

Buta Locaya berkata,
” Meskipun hamba hantu, tetapi hamba raja.
Abadi selamanya.
Tuan belum tentu seperti hamba.

Tekat tuan kotor, suka mengganggu dan menganiaya.
Tampak di sini masih sering melakukan kesalahan menentang adat, menentang
agama, merusak kebaikan, mengganggu agama leluhur.
Tuan dapat disiksa dan dibuang ke Menado.”

Sunan Bonang tak menggubris.
Ia berkata :
” Dadap ini bunganya kunamai celung, buahnya bernama kledung, karena aku
kecelung ( sesat ) pemikiran dan salah bicara.
Jadi saksi ketika aku berdebat dengan hantu, kalah pengetahuan dan
pemikiran.
[ Sampai kini buah dadap bernama kledung, bunganya bernama celung.]
Sudah, aku akan pulang ke Bonang.”

Buta Locaya berkata,
” Ya sudah, silakan tuan pergi.
Di sini tak ayal akan membikin panas.
Bila terlalu lama di sini akan menimbulkan kesusahan, menyebabkan mahal air,
dan mengurangi air.”

Tak Setuju Serbu Majapahit, Syech Siti Jenar Dibunuh
Source : Posmo No. 3 – 1 April 1999

Prabu Brawijaya amat murka ketika mendapat laporan sang Patih tentang adanya
surat dari Tumenggung di Kertosono, yang memberitahukan bahwa telah terjadi
kerusakan di wilaya itu akibat ulah Sunan Bonang.
Segera ia mengutus Patih ke Kertosono, meneliti keadaan sebenarnya.

Setelah tiba, Sang Patih melaporkan semua yang telah terjadi.
Namun, ia tak bisa menemukan Sunan Bonang, karena telah mengembara tak tahu
kemana.
Berikut babak lanjutan dari Serat Darmogandhul.

Saking murkanya, Prabu Brawijaya mengharuskan semua ulama Arab yang ada di
Pulau Jawa pergi.
Hanya di Demak dan Ngampelgading saja yang diperbolehkan tinggal dan
meyebarkan agama Islam.
Apabila menolak akan dibunuh.

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Patihnya, karena ulama Giripura
telah tiga tahun tidak menghadap untuk menyampaikan upeti, bahkan mendirikan
kerajaan sendiri.
Sedang ulama santri Giri punya gelar yang melebihi sang Prabu.
Maka, diseranglah Giri hingga kocar-kacir.

Menyadari kekeliruannya karena tidak menghadap Majalengka, Sunan Bonang
mengajak Sunan Giri ke Demak.
Di sana, mereka menyatu dengan pasukan Adipati Demak dan mengajak menyerbu
ke Majalengka.

Kata Sunan Bonang,
” Ketahuilah, kini saatnya kehancuran kerajaan Majalengka yang telah berumur
103 tahun.
Menurut pertimbanganku, kamulah yang berhak menjadi Raja.
Rusaklah Kraton Majalengka dengan cara halus.

Jangan sampai ketahuan.
Menghadaplah ke Ayahandamu pada acara Grebeg Maulud dengan senjata perang.
Ajaklah seluruh Bupati dan para Sunan beserta bala tentaranya.”

Provokasi
Adipati Demak yang memang putra Prabu Brawijaya semula tidak mau mengikuti
saran Sunan Bonang.

” Saya takut merusak negeri Majalengka.
Melawan ayah, apalagi melawan seorang raja yang telah memberikan kebahagian
dan kebaikan di dunia.
Kata Kakek saya di Ampelgading, saya tidak boleh melawan ayahanda meski
beragama Budha atau pun kafir.”

Mendengan jawaban demikian, Sunan Bonang berkata,
” Meskipun melawan ayah dan raja, tidak ada jeleknya kerena dia kafir.
Merusak kafir tua kamu akan masuk surga.

Kakekmu itu santri yang iri, gundul dan bodoh tak bernalar.
Seberapakah pengetahuan santri Ngampelgading.
Anak kelahiran Campa tak mungkin menyamaiku Sayid Kramat, Sunan Bonang yang
dipujikan manusia sedunia, keturunan rasul anutan semua umat Islam.

Meski kamu dosa, toh hanya kepada satu orang.
Tetapi, semua manusia se Jawa masuk Islam.
Hal demikian, alangkah banyaknya pahala yang kau terima.

Tuhan masih cinta kepadamu.
Sesungguhnya, orang tuamu itu menyia-nyiakan dirimu.
Buktinya, kamu diberi nama Babah.

Babah itu artinya tidak baik.
Hidup hanya untuk mati.
Benih Jawa yang dibawa Putri Cina.

Maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang, orang keturunan
raksasa.
Itu memutus cinta namanya.
Ayahmu tetap berhati tidak baik.

Karena itu, balaslah dengan halus.
Pokoknya jangan kelihatan.
Dalam hati, isaplah darahnya, kunyahlah tulangnya.”

Kemudian, Sunan Giri menyambung,
” Aku tidak berdosa, dicari ayahmu didakwa mendirikan kerajaan karena aku
tidak menghadap ke Majalengka.
Katanya, bila aku tertangkap akan diikat rambutku dan disuruh memandikan
anjing.

Banyak orang Cina yang datang ke Jawa.
Di Giri banyak yang ku-Islamkan.
Sebab, menurut Qur-an, bila meng-Islamkan orang kafir, kelak mendapatkan
surga.

Kedatanganku ke sini untuk minta perlindunganmu.
Aku takut kepada patih dan ayahmu yang sangat benci kepada santri yang suka
berzikir.
Katanya, sakit ayan pagi dan sore.
Bila kamu tidak membela, rusaklah agama Islam ini.”

Jawab sang Adipati Demak,
” Ayahanda memburu tuan itu betul.
Karena tuan Sunan mendirikan kraton.
Tidak menyadari bahwa hal itu harus tunduk perintah raja yang lebih
berkuasa.
Maka, sudah sewajarnya bila diburu, dihukum mati, karena Sunan tidak
meyadari makan minum di Pulau Jawa.”

Namun, Sunan Bonang berkata lagi,
“Jika tidak kau rebut sekarang, kau akan rugi.
Setelah ayahmu turun, tahta itu tentu bukan untukmu melainkan diserahkan
kepada Adipati Pranaraga karena dia putra paling tua.
Atau kepada menantunya, Ki Andayanigrat di Pengging.

Kamu anak muda, tidak berhak menjadi raja.
Mati melawan kafir mati sabilillah, mati menerima surga.
Sudah biasa bagi orang Islam dalam melawan orang kafir.
Aku sudah tua, ingin menyaksikan dirimu menjadi raka, merestui kedudukanmu
sebagai raja di Jawa, memimpin rakyat Jawa, memulai agama suci, dan
menghilangkan agama Budha.”

Panjang lebar nasihat Sunan Bonang agar Adipati Demak bangkit amarahnya, dan
mau merusak Majalengka.
Bahkan, diberi contoh kisah-kisah nabi yang mau melawan orang tuanya karena
kafir.

Syech Siti Jenar Dibunuh
Singkat cerita, tak lama kemudian para sunan dan bupati di pesisir utara
datang semua ke Demak.
Berkumpul untuk mendirikan masjid.
Kemudian sembahyang bersama di masjid yang beru didirikan.
Usai sembahyang pintu masjid ditutup.

Sunan Bonang berkata kepada semua yang hadir di situ, bahwa Bupati Demak
akan dinobatkan sebagai raja dan akan menggempur Majapahit.
Bila semua setuju akan segera dimulai.
Semua sunsn dan bupati setuju.

Hanya Syech Siti Jenar yang tidak.
Maka, Sunan Bonang marah dan menghukum mati Syech Siti Jenar.
Yang disuruh membunuh adalah Sunan Giri.
Setelah sepakat, Adipati Demak diangkat menjadi raja menguasai tanah Jawa
bergelar Senapai Jimbuningrat dengan patih dari atas angin bernama Patih
Mangkurat.

Esok harinya, Senopati Jimbuningrat bergegas dengan perangkat senjata perang
berangkat menuju Majapahit diiringkan para sunan dan bupati.
Berjalan berarakan seprti Grebeg Maulud.
Semua pasukan tak ada yang mengetahui tujuan itu selain para tumenggung,
para sunan dan para ulama.

Sunan Bonang dan Sunan Giri tidak ikut dengan alasan telah lanjut usia.
Keduanya hanya akan salat di dalam masjid dan merestui perjalanan.
Bagaimana cerita di perjalanan tidak dijelaskan panjang lebar.

Terjadi Peperangan
Alkisah, sepulang dari Giri sang Patih melaporkan hasil penaklukan terhadap
Giri yang dipimpin oleh orang Cina beragama Islam bernama Setyasena.
Ia membawa senjata pedang bertangkai panjang.
Pasukannya berjumlah tiga ratus yang pandai bersilat dengan kumis panjang
berkepala gundul, berpakaian serba seperti haji.

Dalam berperang mereka lincah seperti belalang.
Sementara pasukan Majapahit menembaki.
Akibatnya, pasukan Giri tampak jatuh berjumpalitan tidak mampu menerima
peluru.
Senapati Setyasena menemui ajal.

Pasukan Giri melarikan diri ke hutan dan gunung.
Sebagian juga berlayar dan lari ke Bonang dan terus diburu oleh pasukan
Majapahit.
Sunan Giri dan Sunan Bonang yang ikut dalam perahu itu dikira melarikan diri
ke Arab dan tidak kembali ke Majapahit.

Maka Sang Prabu memerintahkan patih untuk mengutus ke Demak lagi, memburu
Sunan Giri dan Sunan Bonang karena Sunan Bonang telah merusak tanah
Kertosono.
Sedangkan Sunan Giri telah memberontak, tidak mau menghadap raja, bertekat
melawan dengan perang.

Sang Patih keluar dari hadapan Raja untuk kemudian memanggil duta yang akan
dikirim ke Demak.
Tetapi, tiba-tiba datang utusan dari Bupati Pati menyerahkan surat
terkenal dengan Menak Tanjangpura ) mengabarkan bahwa Adipati Demak Babah
Patah telah menobatkan diri sebagai Raja Demak.

Sedangkan yang mendorong penobatan itu adalah Sunan Bonang dan Sunan Giri.
Para Bupati di Pesisir Utara dan semua kawan yang sudah masuk Islam
mendukung.
Raja baru itu bergelar Prabu Jimbuningrat atau Sultan Syah Alam Akbar
Khalifaturrasul Amirilmukminin Tajudil Abdulhamid Khak, atau Sultan Adi
Surya Alam di Bintoro.

Pasukannya berjumlah tiga puluh ribu lengkap dengan senjata perang, terserah
kepada Patih cara menghadap kepada raja.
Surat dari Pati itu bertanggal 3 Maulud tahun Jimakir 1303 masa kesembilan
wuku Prabangkat.
Kyai Patih sedih sekali, menggeram sambil mengatupkan giginya.

Sangat heran kepada orang Islam yang tidak menyadari kebaikan sang raja.
Selanjutnya, kyai patih melapor kapada raja untuk menyampaikan isi surat
itu.

Mendengan laporan patih, Sang Prabu sangat terkejut.
Diam membisu, lama tak berkata.
Dalam hatinya sangat heran kepada putranya dan para Sunan yang memiliki
kemauan seperti itu
Mereka diberi kedudukan akhirnya malah memberontak dan merusak Majapahit.

Sang raja tak habis pikir, alasan apa yang mendasari perbuatan mereka.
Dicarinya penalaran-penalaran tetapi tidak tercapai lahir batin.
Tidak masuk akal akan perbuatan jelek mereka itu.

Pikiran sang raja sangat gelap.
Kesedihan itu dikiaskan bagaikan hati kerbau yang habis dimakan kutu babi
hutan.

Sang Prabu juga bertanya kepada sang Patih, apa alasan Adipati Demak dan
para ulama serta bupati tega melawan Majapahit.
Patih pun menjawab tak mengerti.
Ki Patih juga heren, pemikiran orang Islam ternyata tidak baik, diberi
kebaikan membalas dengan kejahatan.

Kemudian, Sang Prabu berkata bahwa, kejadian itu akibat kesalahannya
sendiri.
Yang meremehkan agama yang telah berlaku turun-temurun dan begitu mudah
terpikat kata-kata Putri Campa, sehingga mengizinkan para ulama menyeberkan
agama Islam.
Dari kebingungan hatinya, ia menyumpahi orang-orang Islam.

” Kumohonkan kepada Dewa yang Agung, balaslah kesedihan hamba.
Orang-orang Islam kelak terbaliklah agamanya, menjelma menjadi orang-orang
kucir, karena tak tahu kebaikan.
Kuberi kebaikan membalas dengan kejahatan.”

Sabda sang raja yang berada dalam kesedihan itu disaksikan oleh jagad.
Terbukti dengan adanya suara menggeletar membelah bumi.
Terkenal sampai sekarang, ulama terbaik namanya, tengkuknya dikucir putih.

Tentang kedatangan musuh, yaitu santri yang akan merebut kekuasaan, Sang
Prabu meminta pertimbangan dari Patih.
Sang Prabu kecewa, mengapa hanya untuk menguasai Majapahit harus dengan cara
peperangan.
Seumpama diminta dengan cara baik-baik pun tentu akan diberikan karena Raja
telah lanjut usia.

Patih menjawab, lebih baik menyongsong musuh dengan pasukan secukupnya saja.
Jangan sampai merusak bala pasukan.
Patih diminta memanggil Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga karena putra
yang ada di Majapahit belum saatnya maju berperang.

Setelah memerintahkan demikian, sang prabu meloloskan diri pergi ke Bali
diikuti Sabdopalon dan Nayagenggong.
Ketika memberi perintah itu, Pasukan Demak telah mengepung istana.
Maka Sang Raja segera pergi dengan terburu-buru.

Posted on 19/09/2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: