Demit (Rengeng rengeng lirih ngantuk)

Pada suatu hari, Darmogandul bertanya kepada Ki Kalamwadi tentang asal mula
orang Jawa meninggalkan agama Budha dan berganti agama Islam.

Lantas, Ki Kalamwadi pun menjawab,
“Aku tidak mengerti.
Tetapi guru yang dapat dipercaya menceritakan asal-usul orang Jawa
meninggalkan agama Budha dan berganti memeluk agama Islam.
Ini memang perlu dikatakan, agar orang yang belum tahu menjadi tahu.”

Putri Campa
Pada zaman dulu Majapahit bernama Majalengka.
Majapahit hanyalah kiasan. Bagi yang belum tahu ceritanya, Majapahit
dianggap sebagai nama kerajaan.

Prabu Brawijaya adalah raja terakhir yang berkuasa.
Ia menikah dengan Putri Campa yang beragama Islam.
Putri inilah yang membuat Brawijaya tertarik Islam.

Ketika sedang beradu asmara, sang putri selalu membeberkan keutamaan agama
itu.
Setiap dekat sang prabu, tiada kata lain yang terucap dari Putri Campa
kecuali kemuliaan agama Islam.

Tak lama kemudian datanglah kemenakan Putri Campa bernama Sayid Rahmad.
Ia mohon izin menyebarkan ajaran Islam di Majalengka.
Sang Prabu mengabulkan.
Sayid Rahmad tinggal di desa Ngampeldento-Surabaya.

Banyak ulama dari seberang datang ke Majalengka.
Menghadap sang prabu mohon izin tinggal di wilayah pesisir.
Permohonan itu dikabulkan.
Akhirnya berkembang dan banyak orang Jawa memeluk agama Islam.

Perkembangan itu menempatkan seorang guru agama Islam tinggal di daerah
Bonang, termasuk wilayah Tuban.
Sayid Kramat namanya.
Ia maulana Arab keturunan Nabi Mohammad Rasulullah.

Orang-orang Jawa banyak yang tertarik kepadanya.
Penduduk Jawa yang tinggal di pesisir Barat sampai Timur meninggalkan agama
Budha dan memeluk agama Islam.
Di wilayah Blambangan sampai ke arah Barat menuju Banten pun banyak yang
mengikuti ajaran Islam.

Agama Buddha telah mengakar di tanah Jawa lebih 1.000 tahun.
Menyembah kepada Budi Hawa.
Budi adalah Dzat Tuhan.
Sedangkan Hawa adalah minat hati.

Manusia tidak dapat berbuat apa-apa.
Ia hanya dapat melaksanakan.
Sedang yang menggerakkan semua ialah budi.

Raden Patah
Sang Prabu mempunyai seorang putra bernama Raden Patah.
Ia lahir di Palembang dari rahim seorang Putri Cina.
Ketika Raden Patah dewasa, ia menghadap kepada ayahnya bersama saudara lain
ayah tetapi masih sekandung, bernama Raden Kusen ( Husein ).

Sang Prabu bingung memberi nama putranya.
Diberi nama dari jalur ayah, beragama Buddha, keturunan raja yang lahir di
pengunungan.
Dari jalur ibu disebut Kaotiang.
Sedangkan menurut orang Arab, ia harus dinamakan Sayid atau Sarib.

Sang Prabu memanggil patih dan abdi lain untuk dimintai pertimbangan.
Sang patih pun berpendapat, bila mengikuti leluhur kuno, putra sang Prabu
itu dinamakan Bambang.
Tetapi karena ibunya orang Cina, lebih baik dinamakan Babah, yang artinya
lahir di tempat lain.
Pendapat patih ini disetujui abdi yang lain.

Sang Prabu pun berkata kepada seluruh pasukan bahwa putranya diberi nama
Babah Patah.
Sampai saat ini, keturunan pembauran antara Cian dan Jawa disebut Babah.
Meski tidak menyukai nama pemberian ayahnya itu, Raden Patah takut untuk
menentangnya.

Babah Patah kemudian diangkat menjadi Bupati di Demak.
Ia memimpin para bupati di sepanjang pantai Demak ke Barat.
Ia dinikahkan dengan cucu Kyai Ageng Ngampel.

Babah Patah tinggal di desa Bintara, Demak.
Babah Patah telah beragama Islam sejak di Palembang.
Di Demak ia diminta untuk menyebarkan agama Islam.
Raden Kusen diangkat menjadi Adipati di Terung, dengan nama baru Raden Arya
Pecattanda.

Ajaran Islam makin berkembang.
Banyak ulama berpangkat mendapat gelar Sunan.
Sunan artinya budi.
Sumber pengetahuan tentang baik dan buruk.

Orang yang berbudi baik patut dimintai ajarannya tentang ilmu lahir batin.
Pada waktu itu para ulama baik budinya.
Belum memiliki kehendak yang jelek.
Banyak yang mengurangi makan dan tidur.

Sang Prabu Brawijaya berpikir, para ulama bersarak Budha itu mengapa disebut
Sunan.
Mengapa juga masih mengurangi makan dan tidur.

Sunan Bonang
Pada waktu itu sunan Bonang akan pergi ke Kediri, diantar dua sahabatnya.
Di utara Kediri, yakni di daerah Kertosono, rombongan terhalang air sungai
Brantas yang meluap.

Sunan Bonang dan dua sahabatnya menyeberang.
Tiba di timur sungai, Sunan Bonang menyelidiki agama penduduk setempat.
Sudah Islam atau masih beragama Budha.

Ternyata, kata Ki Bandar, masyarakat daerah itu beragama Kalang, memuliakan
Bandung Bondowoso.
Menganggap Bandung Bondowoso sebagai nabi mereka.
Hari Jumat Wage wuku wuye, adalah hari raya mereka.
Setiap hari itu, mereka bersama-sama makan enak dan bergembira ria.

Kata Sunan Bonang,
” Kalau begitu, orang disini semua beragama Gedhah.
Artinya, tidak hitam, putih pun tidak.
Untuk itu tempat ini kusebut Kota Gedhah.”

Sejak itu, daerah di sebelah utara Kediri ini bernama Kota Gedhah.

Perawan Tua
Hari terik.
Waktu sholat dhuhur tiba.

Sunan Bonang ingin mengambil air wudlu.
Namun karena sungai banjir dan airnya keruh, maka Sunan Bonang meminta salah
satu sahabatnya untuk mencari air simpanan penduduk.
Salah satu sahabatnya pergi ke desa untuk mencari air yang dimaksud.

Sesampai di desa Patuk ada sebuah rumah.
Tak terlihat laki-laki di sini.
Hanya ada seorang gadis berajak dewasa sedang menenun.

” Hai Gadis, aku minta air simpanan yang jernih dan bersih,”
kata sahabat itu.

Perawan itu terkejut.
Ia menoleh.
Dilihatnya seorang laki-laki.
Ia salah paham.
Menyangka lelaki itu bermaksud menggodanya.

Ia menjawab kasar :
” Kamu baru saja lewat sungai.
Mengapa minta air simpanan.
Di sini tidak ada orang yang menyimpan air kecuali air seniku ini sebagai
simpanan yang jernih bila kamu mau meminumnya.”

Mendengar kata-kata kasar itu, sahabat itu langsung pergi tampa pamit.
Mempercepat langkah sambil mengeluh sepanjang perjalanan.
Tiba di hadapan Sunan Bonang, peristiwa tak menyenangkan itu disampaikan.

Mendengar penuturan itu Sunan Bonang naik pitam.
Keluarlah kata-kata keras.
Sunan menyabda tempat itu akan sulit air.

Gadis-gadisnya tidak akan mendapat jodoh sebelum usianya tua.
Begitu juga dengan kaum jejakanya.
Tidak akan kimpoi sebelum menjadi jejaka tua.

Terkena ucapan Sunan Bonang, aliran sungai Brantas menyusut.
Aliran sungai berbelok arah.
Membanjiri desa-desa, hutan, sawah, dan kebun.

Prahara datang diterjang arus sungai yang menyimpang.
Dan setelah itu kering seketika.
Sampai kini daerah Gedhah sulit air.

Perempuan-perempuannya menjadi perawan tua.
Begitu juga kaum laki-lakinya.
Mereka terlambat berumah tangga.

Demit
Kemudian, Sunan Bonang melanjutkan perjalanannya ke Kediri.
Di daerah ini ada demit (mahluk halus) bernama Nyai Plencing.
Menempati sumur Tanjungtani yang sedang dikerumuni anak cucunya.

Mereka lapor, bahwa ada orang bernama Sunan Bonang suka mengganggu kaum
mahluk halus dan menonjolkan kesaktian.
Anak cucu Nyai Plencing mengajak Nyai Plencing membalas Sunan Bonang.
Caranya dengan meneluh dan menyiksanya sampai mati agar tidak suka
mengganggu lagi.

Mendengar usul itu Nyai Plencing langsung menyiapkan pasukan, dan berangkat
menemui Sunan Bonang.
Tetapi anehnya, para setan itu tidak bisa mendekati Sunan Bonang.
Badannya terasa panas seperti dibakar.

Setan-setan itu berhamburan.
Lari tunggang langgang.
Mereka lapor ke Kediri menemui rajanya.

Raja mereka bernama Buta Locaya, tinggal di Selabale, di kaki Gunung Wilis.
Buto Locaya semula adalah patih raja Sri Jayabaya, bernama Kyai Daha.
Ia dikenal sebagai cikal bakal Kediri.
Ketika Raja Jayabaya memerintah daerah ini, namanya diminta untuk nama
negara.

Ia diberi nama Buta Locaya dan diangkat patih Prabu Jayabaya.
Buta sendiri artinya bodoh.
Lo bermakna kamu.
Dan Caya dapat dipercaya.
Bila disambung, maka Buta Locaya mempunyai makna orang bodoh yang dapat
dipercaya.

Sebutan itu hampri menyerupai sebutan kyai, yang bermula dari Kyai Daha dan
Kyai Daka.
Kyai artinya melaksanakan tugas anak cucu dan orang di sekitarnya.
Kisah soal kyai ini bermula saat Sang Raja ke rumah Kyai Daka.

Sang Prabu dijamu Kyai Daka.
Sang Prabu suka dengan keramahan itu.
Nama Kyai Daka pun diminta untuk desa yang kemudian berganti Tunggulwulung.
Seterusnya ia diangkat menjadi panglima perang.

Ketika Prabu Jayabaya muksa ( mati bersama raganya hilang ) bersama Ni Mas
Ratu Pagedongan, Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung juga iktu muksa.
Ni Mas kemudian menjadi ratu setan di Jawa.
Tinggal di laut Selatan dan bergelar Ni Mas Ratu Angin-Angin.

Semua mahluk halus yang ada di laut selatan tunduk dan berbakti kepada Ni
Mas Ratu Angin-Angin.
Buta Locaya menempati Selabale.
Sedangkan Kyai Tunggulwulung tinggal di Gunung Kelud menjaga kawah dan lahar
agar tidak merusak desa sekitar.

Ketika Nyai Plencing datang, Buta Locaya sedang duduk di kursi emas beralas
kasur babut dihias bulu merak.
Ia sedang ditemani patihnya, Megamendung dan anaknya, Paji Sektidiguna dan
Panji Sarilaut.
Ia amat terkejut melihat Nyai Plencing yang datang sambil menangis.

Ia melaporkan kerusakan-kerusakan di daerah utara Kediri yang disebabkan
ulah orang dari Tuban bernama Sunan Bonang.
Nyai Plencing juga memaparkan kesedihan para setan dan penduduk daerah itu.
Mendengar laporan Nyai Plencing Buta Locaya murga.

Tubuhnya bagaikan api.
Ia memanggil anak cucu dan para jin untuk melawan Sunan Bonang.
Para setan dan jin itu bersiap berangkat.
Lengkap dengan peralatan perang.

Mengikuti arus angin, mereka pun sampai di desa Kukum.
Di tempat ini Buta Locaya menjelma menjadi manusia, berganti nama Kyai
Sumbre.
Sementara setan dan jin yang beribu-ribu jumlahnya tidak menampakkan diri.

Kyai Sumbre berdiri di bawah pohon.
Menghadang perjalanan Sunan Bonang yang datang dari utara.

Sebagai orang sakti, Sunan Bonang tahu ada raja setan dan jin sedang
menghadang perjalanannya.
Tubuh Sunan yang panas menjelma bagai bara api.
Para setan dan jin yang beribu-ribu itu menjauh.
Tidak tahan menghadapi wibawa Sunan Bonang.

Namun tatkala berhadapan dengan Kyai Sumbre, Sunan Bonang juga merasakan
hawa panas.
Dua sahabatnya pingsan dan demam.

Debat Soal Tuhan dan Kebenaran
Source : Posmo No. 2 – 25 Maret 1999

Debat sengit antara Sunan Bonang dengan Buta Locaya makin seru.
Sunan Bonang dengan tegas menyatakan bahwa, daerah tersebut dikatakan Gedah
karena tidak jelas agamanya.

” Kusabdakan sulit air karena ketika aku minta air tidak diberi.
Sungai ini kupindah alirannya agar kesulitan mendapatkan air.
Sedangkan jejaka dan perawan kusabdakan sulit mendapat jodoh karena yang
kuminai air itu perawan desa.”

Buta Locaya menjawab, bahwa itu tidak seimbang.
Salah yang tak seberapa, apalagi hanya dilakukan oleh seseorang, tetapi
penderitaannya dirasakan oleh banyak orang.
Bila dilaporkan kepada penguasa, tentu akan mendapatkan hukuman berat karena
merusak daerah.

Sunan Bonang menjawab, ia pun tak takut dilaporkan Raja Majalengka.

Debat Soal Kebenaran
Ketika Buta Locaya mendengar kata-kata itu, ia pun marah.
Buta Locaya berkata masygul :
” Ucapan tuan bukan ucapan yang paham aturan negara.
Itu pantas diucapkan oleh orang yang tinggal di rumah madat, mengandalkan
kesaktian.

Janganlah sombong.
Mentang-mentang dikasihi tuan berkawan dengan malaikat, lalu berbuat
sekehendak hati.
Tidak melihat kesalahan, menganiaya orang lain tanpa sebab.

Meskipun di Jawa ini akan ada orang yang lebih kuat dari pada tuan, tapi
mereka baik budi dan takut kepada laknat dewa.
Tuan akan dijauhi orang-orang baik budi bila tetap berbuat demikian.

Apakah tuan termasuk orang seperti Aji Saka murid Ijajil ?
Aji Saka menjadi raja di Jawa hanya tiga tahun, lalu pergi sambil membawa
seluruh sumber air di Medang.
Ia Hindu.Suka membuat sulit air.

Tuan mengaku sunan seharusnya berbudi baik, menyelamatkan orang banyak,
tetapi ternyata tidak demikian.
Tuan layak seperti setan yang menampakkan diri, tidak tahan digoda anak
kecil.
Lekas naik darah.
Sunan apakah itu ?

Jika memang sebagai Sunan manusia sesungguhnya, tentu suka berbuat
kebajikan.
Tuan menyiksa orang tanpa dosa.
Itulah jalan celaka, tanda bahwa tuan telah menciptakan neraka jahanam.
Bila telah jadi lalu tuan tempati sendiri, mandi di dalam air mendidih.”

Hamba ini bangsa mahluk halus, tidak selam dengan manusia, tetapi hamba
masih memperhatikan nasib manusia.
Marilah semuanya yang rusak itu tuan kembalikan kepada keadaan semula.
Sungai yang kering dan daerah yang terlanda banjir hamba mohon untuk
mengembalikan.
Semua orang Jawa yang beragama Islam akan hamba teluh supaya mati.
Hamba akan meminta bantuan Kangjeng Ratu Angin-Angin di laut Selatan.”

Begitu mendengar kemarahan Buta Locaya, Sunan Bonang menyadari kesalahannya.
Ia berkata,
” Buta Locaya, aku Sunan tidak diperkenankan meralat ucapanku.
Aku hanya bisa membatasi saja.
Kelak, bila telah berlangsung 500 tahun, sungai ini dapat kembali seperti
semula.”

Buta Locaya mendengar kesediaan Sunan Bonang, bertambahlah kemarahannya.
” Kembalikan sekarang juga.
Bila tidak, tuan akan hamba ikat.”

” Sudah, jangan berbantah lagi.
Aku mohon diri akan berjalan ke timur.

Buah Sambi ini kunamakan cacil karena keadaan ini seperti anak kecil yang
sedang berkelahi.
Setan dan manusia saling berebut kebenaran tentang kerusakan yang ada di
daerah dan kesedihan manusia dengan setan.

Ku mohonkan kepada Tuhan, buah sambi menjadi dua macam, daging buahnya
menjadi asam.
Bijinya mengeluarkan minyak sebagai lambang muka yang masam.

Posted on 19/09/2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: