Dajjal-Illuminati VS Kristen-Islam-Yahudi (1)

KELAK DI TANAH JAWA AKAN ADA MANUSIA BERBULU YANG ALIH ALIH MAU MENYEBARKAN AGAMA………….


Project Blue Beam adalah proyek rahasia yang melibatkan NASA dan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Terdiri dari sebuah rencana yang melibatkan empat langkah untuk menciptakan sandiwara-buatan mengenai “Kedatangan Kedua Yesus/Isa A.S ke bumi” (second coming of Jesus/ Isa A.S) untuk mendirikan sebuah “satu agama dunia” yang dikendalikan oleh Tata Dunia Baru. Pertama kali dilaporkan ke publik pada tahun 1994 oleh Serge Monast, seorang wartawan Canada.
Serge Monast dan teman wartawannya, keduanya meneliti Project Blue Beam, meninggal karena “serangan jantung” dalam selang beberapa minggu satu sama lainnya, meskipun keduanya tidak memiliki catatan memiliki penyakit jantung.
Saat itu Serge sedang berada di Kanada. Wartawan Kanada temannya sedang berkunjung Irlandia.
Sebelum kematiannya, pemerintah Kanada menculik putri Serge dalam upaya mencegahnya untuk terus melakukan penelitian Project Blue Beam. Hingga kini, putrinya tidak pernah kembali.

Project Bluebeam adalah proyek rahasia NASA, dimana dengan menggunakan teknologi canggih seperti HAARP (High Frequency Active Auroral Research Program atau Program Penyelidikan Aurora Aktif Frekuensi Tinggi), salah satu stasiun bumi HAARP ada di Alaska Dengan alat ini mereka akan menciptakan sandiwara yang sangat canggih untuk menipu umat dunia.
Mereka akan mensimulasikan turunnya Yesus/ Isa A.S ke bumi, tapi sebelumnya mereka juga akan mensimulasikan serangan UFO ke bumi terlebih dahulu.

Tujuannya?
untuk membuat masyarakat ketakutan… sehingga mereka membutuhkan penolong.. disinilah sang messiah palsu akan turun (dajjal), dan akan berpura-pura menjadi penyelamat mereka.
Dajjal akan menyuruh manusia untuk bersatu menjadi satu pemerintahan (one world government).
Dajjal akan mengaku sebagai Messiah, dan memproklamirkan diri sebagai Tuhan, dan menyruh manusia untuk menyembahnya (one world religion)

SEJARAH
Project Blue Beam diyakini merupakan kelanjutan dari eksperimen seperti Philadelphia dan Montauk, yang dikerjakan oleh militer Amerika Serikat di tahun 1940-an.
Blue Beam tampaknya berbasis di kompleks dengan keamanan yang tinggi yaitu di Area 51, Nevada, Amerika Serikat. Proyek ini diduga telah melakukan eksperimen berkali-kali di daerah terpencil dengan membuat gambar holografik Yesus Kristus dan UFO.

THE FOUR STEP (4 LANGKAH) project Blue Beam oleh NASA
1. Pendoktrinan (re-evaluasi) dari semua pengetahuan arkeologi.
Ini berhubungan dengan set-up perencanaan, dengan cara menciptakan gempa bumi buatan di lokasi tempat tertentu di planet ini, yang konon penemuan-penemuan baru ini akhirnya akan menjelaskan kepada semua orang tentang kesalahan yang mendasar dari semua doktrin agama.
2. Membuat ‘pertunjukan angkasa’ raksasa dengan hologram tiga dimensi dan suara optik.
Memproyeksikan gambar-gambar laser holografik ke berbagai belahan dunia, masing-masing menerima gambar yang berbeda menurut daerah keyakinan agama mereka . Suara Tuhan baru ini akan dapat berbicara dalam semua bahasa.
Pertunjukan angkasa tersebut yaitu gambar holografik yang akan digunakan dalam simulasi akhir di mana semua bangsa akan ditampilkan adegan-adegan yang akan menjadi pemenuhan dari nubuat-nubuat (Turunnya Nabi Isa/ Yesus ke bumi).
Ini akan diproyeksikan dari satelit ke lapisan natrium sekitar 60 kilometer di atas bumi.
3. Membuat komunikasi dua arah telepati elektronik.
Gelombang ELF (Extremely low frequency), VLF (Very low frequency), dan LF (Low frequency) akan mencapai orang-orang di bumi melalui bagian dalam otak mereka, membuat setiap orang percaya bahwa Allah sendiri yang berbicara kepada-Nya dari dalam jiwanya sendiri.
Menurut penelitian ilmuwan, sudah terbukti bahwa frekuensi rendah dapat mempengaruhi manusia karena frekuensi rendah dapat meneumbus badan manusia yang otomatis dapat “menerjang” ke otak lalu akan mempengaruhi cara kerja otak.
4. Melibatkan manifestasi supranatural universal menggunakan sarana elektronik.
Gelombang (frekuensi) yang digunakan pada waktu itu akan memungkinkan kekuatan gaib untuk mengalir melalui kabel serat optik, kabel koaksial, listrik dan saluran telepon untuk menembus semua peralatan elektronik dan peralatan yang pada saat itu memiliki microchip khusus yang telah diinstal.
Tujuan dari langkah ini berkaitan dengan perwujudan dari setan, hantu, dan jin di seluruh dunia dalam rangka untuk membuat seluruh populasi ke tepi gelombang bunuh diri, membunuh dan mengalami gangguan psikologis permanen.
Setelah malam seribu bintang itu, akhirnya manusia diyakini telah siap untuk menerima adanya “mesiah baru” untuk membangun kembali perdamaian di bumi ini walaupun dengan harga melepaskan kebebasan.

Proyek Rahasia Penyembah Setan
Bagi yang merasa heran apa hubungannya antara dajjal dengan Project Bluebeam?
Project Bluebeam adalah salah satu agenda untuk pembentukan New World Order. Dimana pelaksana agenda ini adalah orang-orang yang menyembah iblis / lucifer.
Dan Iblis mempersiapkan rencananya dengan baik untuk menyesatkan manusia dengan bekerja sama dengan para pemujanya, yaitu dengan mempersiapkan kedatangan dajjal/ anti-christ di muka bumi agar semua manusia tidak menyembah Tuhan / Allah tapi menyembah sang dajjal.

Kaum-kaum sesat tersebut telah menyebar kemana-mana dan telah masuk ke berbagai macam agama. Jadi, agama apapun telah diindikasikan tersusupi oleh orang-orang mereka yang membuat semua orang agamais saling diadu-domba. Semua ini bukan omong kosong dan ini sangatlah serius…!

Kini timbul pertanyaan akhir, akankah para believers (orang-orang yang percaya agama dan Sang Pencipta) seperti Yahudi, Kristiani dan Islam yang pada awalnya berakar dari satu keyakinan dapat bersatu melawan mereka??? Jawabannya ada di dalam diri anda masing-masing. Ini masalah serius, just think again…

Sumber Copy Paste

Iklan

SP Iblis

Beberapa waktu yang lalu ada dibicarakan mengenai sesuatu hal yang sekiranya dapat disebut SP iblis dan ada di sebut tanggal 5 maret. Berikut mungkin beberapa ciri SP iblis sesuai dengan sumber yang ada.

Pisces:
Memiliki Sisi Manusiawi Yang Besar, Penuh Cinta, Praktis, Suka Mengkhayal
Bunga Keberuntungan : Sedap Malam, Teratai, Lily.
Warna Keberuntungan : Hijau Laut, Biru Kehijau-Hijauan
Elemen Keberuntungan : Air
Para Pisces kaum yang ekstrim, sensitif dan lain dari yang lain.
Mereka ingin melakukan segala sesuatunya dengan baik tetapi hal ini sulit sekali, karena mereka juga harus selalu mendengarkan kata hati mereka tentang hal-hal yang benar & salah.
Para pisces penuh pesona, humor dan sipati bila berhadapan dengan orang lain sehingga menerima banyak pertolongan dari orang lain.
Pisces butuh suatu wadah untuk mengembangkan bakatnya sehingga ia merasa sangat bahagia.
Mereka akan frustasi bila terjebak dalam rutinitas.
Mereka mudah percaya janji-janji yang diberi oleh orang lain, tanpa berpikir panjang.
Kaum Pisces pandai dalam hal memainkan perasaan.
Mereka menjadi sangat sensitif terhadap apa yang dipikirkan dan dirasakan orang lain, dam menjadi sangat mudah marah tanpa alasan yang jelas.
Ini membuat orang lain sulit menebak perasaan mereka.
Kaum Pisces pandai membujuk.
Mereka senang bila pekerjaannya dihargai orang lain, bila tidak maka ia tidak akan mengerjakan tugasnya dengan benar.
Pisces senang pada hal-hal yang bersifat hiburan dan bersedia menjadi tuan rumah dari setiap peristiwa atau pertemuan.
Mereka terlihat malu dan tertutup namun padahal tidak.
Bila mereka merasa nyaman dengan sekitarnya, mereka tidak akan ragu untuk mengambil alih.
Orang Pisces umumnya mempunyai watak campuran baik dan buruk kelemahannya bersama-sama dengan kekuatannya. Mempunyai sifat perwira. Bila terlepas dari ketetapan hatinya, sering timbul kebimbangan. Mudah terpengaruh oleh lingkungan dan pergaulan. Suka dengan pemandangan alam, suka merantau. Pandai berbicara dan seringkali mengalahkan lawan bicaranya dalam berdebat. Suka menolong orang yang menderita, kadang kala dengan uang yang berlebihan, sehingga sering menimbulkan penyesalan kemudian. Pemahaman keagamannya amat mendalam sehingga dapat menjadi pemimpin agama atau organisasi keagamaan. Kelemahannya, pemarah, pemalu, pelupa, dan kadang keras kepala.

Monyet:
Monyet terkenal binatang menyenangkan dan energik, Shio Monyet dapat menciptakan kesenangan, aktivitas dan menggoda. Mereka benar-benar tahu bagaimana mendapatkan waktu senang dan dapat terlihat berpindah dari satu group teman ke group yang lain, menarik perhatian banyak orang. Selalu semangat, mereka di anggap sebagai selebritis dalam lingkungannya karena selera humor yang tinggi dan pemikiran yang tajam. Bahkan secara mengejutkan, Shio Monyet juga pendengar yang baik dan dapat mengatasi situasi yang menyulitkan. Sifat alami Shio ini adalah keingin tahuan yang menyebabkan mereka menjadi sangat tahu banyak hal diberbagai topic. Monyet memiliki sisi membanggakan diri sendiri dengan cara menarik perhatian rekannya melalui apa yang mereka ketahui.

Monyet cenderung rentan terhadap kecelakaan karena kurangnya pertimbangan dalam berbagai hal. Kepentingan utama dari Shio ini adalah mengejar kesenangannya sendiri; ini bukan hal yang buruk hanya saja inilah sifat alami dari Monyet. Namun, sikap yang kurang berhati-hati dari Monyet dapat membawa mereka ke berbagai masalah. Berita baiknya adalah, sikap lembut dan selera humor si Monyet dapat menjauhkan Monyet dari masalah. Mungkin tidak semua orang akan selalu menang dengan Monyet ? tapi apakah Monyet benar-benar peduli ? Dunia si Monyet, penuh dengan energi dan itu bukan untuk semua orang. Ingat, Shio ini bukan berarti kejam; namun mereka hanya sedikit ingin tahu untuk kebaikan mereka sendiri. Monyet selalu merasa butuh untuk mencoba segala sesuatu setidaknya satu kali.
Mereka juga tidak takut mengakui kesalahan mereka, tapi setidaknya mereka coba mundur dan menyembunyikan segala sesuatu ? untuk sementara.

Monyet mempunyai lambang penemu. Ia penuh inovasi, pandai berimprovisasi dan sanggup menarik perhatian orang terhadapnya lewat akalnya yang seribu satu macam dan daya pikatnya yang tak dapat ditiru. Orang ber shio Monyet mampu memecahkan masalah yang ruwet-ruwet dengan gampang dan dapat belajar dengan cepat. Sejak berusia dini, ia sudah memupuk keahlian bermasyarakat. Ia mengerti bagaimana cara bergaul yang baik dan bagaimana cara membujuk orang lain untuk memperoleh apa yang diperlukannya secara tepat.
Daya cipta warga Monyet tidak hanya mengarah pada ketrampilan atau keahlian pikiran, tetapi juga mengarah pada kecenderungan untuk membelokan kebenaran demi keuntungan mereka pada situasi tertentu. Seringkali dalam bermacam hal, batas antara angan-angan dan kenyataan menjadi kabur, fakta dicampur dengan fiksi, dan kebenaran dan kebohongan beriringan. Andaikata standar moral Monyet yang tidak terlalu tinggi membuatnya menjerumuskan diri dalam suatu kesulitan, maka kecerdasan, kelincahan, dan kelicikannya akan membuatnya mudah memutar-balikkan kenyataan untuk menyelamatkan mukanya dan mencari dalih untuk kepentingan diri sendiri.

Monyet paling cerdas di antara semua shio. Ia lincah tak bisa diam, humoris, jenaka, menyenangkan hati, dan mampu memperdayai siapa pun. Ia mahir memperhitungkan dan mengelak dari bencana dan mudah memasang perangkap hingga musuh tak berdaya. Ia pemberani, tanpa perhitungan, lepas bebas tak terkendali, dan penuh vitalitas. Shio Monyet tak kenal bahaya, bertindak sesuka hati, cerdik dan mahir berbisnis. Ia selalu tahu gejolak pasar dan mampu membaca pikiran pelanggan.
Bagi Shio Monyet, peraturan dibuat untuk dilanggar dan penemuan baru tercipta untuk dikalahkan yang lebih baru lagi. Shio Monyet jarang patah semangat dan mudah menyerah oleh kesuksesan orang lain. Shio Monyet akan berusaha lebih baik, optimis, dan energik daripada yang dilakukan oleh orang lian. Ia sayang pada anak-anak tapi kadang kekanakan, jenaka, jahil, jujur, dan baik hati. Namun, bila kurang tepat, ia bisa menghentikan semua kegiatannya dan akan menunggu saat yang tepat untuk bertindak. Bagi Shio Monyet, persiapan matang itu penting walaupun membutuhkan banyak waktu.
Sulit untuk berlama-lama memusuhi Shio Monyet. Ia selalu menempatkan dirinya di posisi yang menguntungkan. Kalau kebetulah harus kalah, Shio Monyet tahu betul bagaimana caranya menyerah tanpa kehilangna muka. Ia ahli seninya hidup. Dia mengerti, pada saat tertentu lebih baik mundur satu langkah untuk maju seribu langkah.
Ada dua bintang pelindung besar dan banyak lagi bintang keberuntungan lainnya yang akan mengingkatkan posisi Anda tahun 2012 ini. Kuatnya tingkat keberuntungan tahun ini membuat tahun ini menyenangkan dan segala usaha Anda bisa berhasil dan menuju kesuksesan

Primbon berdasar sumber:
Wuku : Julungwangi (9)
Dewa : Sambu – cerewet, gengsian tinggi perasaan, tidak mau disamai, murah hati, suka menolong
Pembawaannya menyenangkan, mudah dapat rezeki.
Umbul-umbul : mengahadap air jambang – rela tetapi harus diperlihatkan – dicintai.
Dekat dengan kemuliaan dan disegani oleh orang besar.
Pohonnya : Pohon Cempaka, punya daya tarik.
Burungnya : Kutilang banyak bicara dan dipercayai, dicintai pembesar.
Bahaya : digondol singa, digigit binatang liar.
Candranya : Kayu kemladeyan patah kasturi arum angambar
Artinya maunya sudah tersiar meski belum terjadi, banyak yang cinta.
Sesajinya : tumpeng kebuli merah kecap, daging ayam merah, jajan pasar dan gecok.
Doanya : tulak bala.
Pantangan : 7 hari sejak selamatan jangan pergi ke timur laut, letak Kala di selatan hadap timur laut.
Hari naas : tidak menentu. Hari baik : tidak jelas.
Warukung Kala Wogan Lakuning Lintang Satriya Wirang

Kepekaan yang umumnya memiliki kemampuan halus untuk bersikap adil dan seimbang. Anda bisa melihat banyak sudut pandang dalam tiap argumen atau situasi, dan karenanya orang-orang akan mencari Anda sebagai penengah. Dalam peran ini, Anda mampu menyelesaikan berbagai perselisihan dengan cara yang berkelas.

Ada perhatian yang tulus terhadap orang lain, Anda berpikir yang terbaik tentang mereka, dan ingin yang terbaik bagi orang lain. Anda jujur dan terbuka dalam pikiran, ucapan maupun tindakan. Anda cenderung berhasil dalam segala kegiatan kelompok, tempat Anda mempraktekkan kemampuan untuk menggabungkan orang-orang dari bermacam-macam latar belakang. Etiket dan diplomasi merupakan cara Anda berhubungan dengan orang setiap saat.

adalah orang “KASANGA” karena pada saat itu adalah mangsa Kasanga. Mangsa tersebut berjalan selama 25 hari dan bertepatan sedang musim hujan. Candranya “Wedaring Wacana Mulya” yang artinya “Tersiarnya Berita Bahagia”. Mangsa Kasanga dalam penguasaan Batara Bayu, oleh karenanya pada saat itu bagi mereka yang terlahir dalam mangsa “KASANGA” mempunyai sifat-sifat, tabiat, dan perjalanan hidup dalam pengaruh Batara Bayu.

Batara bayu adalah putera Batara Guru dari ibu Dewi Uma. Batara Bayu adalah Putera keempat, yang mempunyai kekuasaan mengendalikan jalannya angin. Bentuk tubuh Batara Bayu tidak kekar, tetapi berkubuh besar dan tegap. Raut mukanya menggambarkan keramahan tetapi seram berwibawa. Batara Bayu sangat membenci peperangan dan persengketaan, dia selalu menjadi penengah setiap ada persengketaan besar di bumi ini. Bila berjalan selalu diikuti oleh hembusan angin kencang.

Maka begitu juga apa yang terjadi pada orang Kasanga, mereka juga terpengaruh oleh Batarn Bayu, khususnya tentang kesenangannya bepergian jauh. Seolah angin yang meniupnya sampai kemana-mana. Dia sangat menyenangi pemandangan alam yang indah. Juga mengagumi hal-hal yang penuh misteri, khususnya alam gaib.

Sering pula angan-angannya terhembus angin jauh entah kemana. Hidupnya antara alam nyata dan alam khayal. Sehingga memerlukan seseorang/sesuatu yang bisa memacu dirinya untuk berbuat secara nyata. Dia sering menolong kawan-kawannya yang sedang bertengkar. Tetapi suatu ketika dia sendiri kalau diganggu orang, lebih memilih mengalah. Dengan sikap yang lemah lembut, kebaikan-kebaikannya untuk menolong sesama itu menyebabkan dia sangat disenangi dalam pergaulan. Begitu besar sayangnya, sampai kawan-kawannya pun bersedia melindungi.

Kurang berani mengutarakan pendapatnya, hal itu disebabkan karena dia khawatir kalau apa yang akan diutarakan itu akan menjadi masalah bertambah runyam. Itulah kebiasaannya berkhayal menurut imajinasinya, padahal kenyataannya mungkin tidak demikian. Sehingga orang Kasanga kelihatan seperti orang pendiam. Padahal yang sebenarnya tidak demikian, dia ingin banyak berceritera dan membagi pendapat. Pengaruh angin dari Batara Bayu yang sangat kuat menguasai dirinya, sehingga dia seolah terombang-ambing.

Orang Kasanga mempunyai dasar kebaikan hati “Membela Kebenaran & Kebaikan”. Sifat dasar yang baik itu akan hilang kalau tidak ada yang membimbingnya. Karena ada pula sifat bimbang dalam segala hal. Sifat bimbang itu akan berkepanjangan kalau dia hidup dilingkungan yang tidak menentu, artinya kalangan yang beragam keadaan penghuninya, misalnya di tempat-tempat yang kumuh dan berjubal dengan berbagai tingkat latar belakang sosialnya, pendidikan dan karakter.

Sejak masih dini orang tua memegang peran penting atas sifat anak Kasanga tersebut. Mereka harus dibimbing dengan penuh bijaksana. Karena anak Kasanga juga tidak dapat dengan mudah menerima teguran dan perintah. Kalau dia mendapat kekerasan, maka kekerasan itulah yang akan tersimpan dalam memori bawah sadarnya. Bisa saja dia juga akan menjadi orang yang keras dan brutal.

KEADAAN ALAM SEMESTA
Mangsa “KASANGA” memiliki lama orbit 25 hari, tanggal 2 Maret – 26 Maret. Pada mangsa itu adalah musim hujan. Bahkan hujan masih lebat dibarengi oleh kilat dan petir. Hawa siang, malam dan pagi hari terasa dingin, bahkan didaerah pegunungan berembun. Angin berhembus dari arah Selatan dengan kekuatan kencang. Sedangkan dalam bidang pertanian pada mangsa tersebut, buah duku, jeruk manis, sudah saatnya untuk dipetik. Padi tampak rebah pertanda bulir-bulir padinya telah berisi bahkan sebagian telah ada yang menguning. Maka musim tersebut candranya “Wedharing Wacana Mulya” yang artinya “Tersiarnya Berita Bahagia”.

Pengaruh mangsa “KASANGA” terhadap semesta alam maupun manusia suatu pertanda kehidupan. Silih berganti dari mangsa ke mangsa merupakan putaran-putaran cakra panggilingan. Begitu pula nasib manusia silih berganti pula, dari senang ke sedih, dari sedih kembali senang. Maka tiada satu kekuatan pun yang dapat menghentikan perjalanan mangsa, tetapi Tuhan telah menurunkan Ilmu-Nya untuk mengetahui Rahasia Semesta Alam, agar kenikmatan yang telah diciptakan oleh Tuhan itu tidak menjadi bencana bagi Umat-Nya, khususnya Manusia.

KEADAAN FISIK
Orang kelahiran Mangsa “KASANGA” mempunyai keistimewaan dalam bentuk tubuhnya gemuk dan tidak begitu tinggi seperti umumnya orang dewasa. Walaupun orang Kasanga berbadan gemuk, tetapi tidak kelihatan berotot. Walaupun ada pula yang normal postur tubuhnya seperti pada umumnya orang dewasa dan berotot. Tetapi hal itu hanya berjumlah sedikit, artinya pengecualian.

Penampilan orang Kasanga tenang dan berwibawa. Wajahnya tampak sendu. Kakinya juga tidak begitu kuat, maka dianjurkan untuk melatih diri agar kuat untuk berjalan jauh

Dalam pergaulan orang Kasanga dapat dikatakan tidak pernah berkelahi, dia lebih baik mengalah. Kalau dia telah terpojok oleh lawan yang benar-benar memusuhi dan akan mencelakainya, tanpa terduga dia dapat mengatasi masalahnya itu dengan sempurna. Sehingga lawannya membatalkan niatnya bahkan dapat berbalik menjadi baik.

Bila perjalanan Wuku Dukut memasuki orbit mangsa “Kasanga”, dampaknya terjadilah perubahan dari ketentuan asli pengaruh Wuku tersebut. Hal itu besar sekali artinya bagi kehidupan din penghidupan seseorang, maupun peristiwa-peristiwa Alam Semesta.

Pengaruh Wuku Dukut. Dewa: Batara Baruna. Candranya: Tunggul asri sesengkeraning nata. Seseorang yang terlahir dalam Wuku tersebut sifatnya pemalu, tetapi mempunyai ketegasan. Penghidupannya rejeki banyak, pandai simpan uang dan teliti. Kemudian akan terjadilah perubahan-perubahan pengaruh kosmis, akibat cahaya Zodiak yang disebut F-korona mempunyai pengaruh kuat sekali terhadap Alam Semesta dan Kehidupan.

Pengaruh Mangsa “Kasanga” besar sekali terhadap peredaran dan perjalanan Wuku di dalam kehidupan, penghidupan, sifat, dan pengaruh alam semesta. Merupakan misteri kehidupan semesta alam. Meskipun seseorang dengan orang lain terlahir di dalam Wuku yang sama, kenyataannya mempunyai sifat, nasib, dan perjalanan hidup yang berbeda. Hal itu dapat terjadi karena perbedaan jam kelahiran, Hari dan Pasaran (Weton).

TUNGGAK SEMI: Jiwanya dapat terkendali, suka berontak dan bertengkar. Di balik itu semua, orang sering dibuat tidak mengerti; karena tampaknya ramah tamah dan sopan dalam penampilannya. Dermawan dan murah hati. Paling senang berdebat dan mencampuri urusan orang lain. Pada hari tua akan mengalami kemajuan bidang karier dan hidupnya kecukupan bahkan dapat kaya.

Sekelumit data di atas belum tentu benar adanya. Akan tetapi yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Shio Monyet bintang Pisces di sebut dengan SP Iblis? Bukankah sekarang adalah masa peralihan dari jaman pisces ke aquarine.
Ataukah ada sesuatu dengan diri Monyet pisces ini sehingga dia mendapat julukan SP Iblis? Untuk mengaburkan yang sebenarnya ataukah bagaimana.
Sifat manusia adalah menjelekkan kepada yang lain. Untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah yang benar
Dan sifat berlian adalah tertutup tanah kotor hitam legam dan tidak kelihatan
Ada segi positif dan negatif dari data di atas. tetapi apabila kita mau terbuka maka kita akan selalu berpikir kepada hal yang positif saja. karena kalo kita melihat sisi negatifnya maka akan terlihat jelek saja

Anekdot: Hati hati terhadap SP iblis.
Pisces = Yin Yang (Keseimbangan Natural)
Monyet = Dewa (Satu satunya binatang yang menjadi Dewa)

Sejatinya Wadag SP

Beberapa paparan mengenai wadag Satria Piningit bermunculan di berbagai tempat. Mungkin salah satunya sesuai dengan gambaran dan pikiran anda. Tetapi perlu diingat bahwa sebenarnya paparan paparan yang ada biasanya hanya disesuaikan dengan keadaan si penulis atau golongan semata. Keterbukaan hati dan pikiran dalam melihat suatu bentuk paparan akan menjelaskan kepada kita manakah bentuk paparan yang benar dan adil untuk semua. Berikut adalah bentuk dari wadag SP yang benar dan adil untuk semua.

1. SP bersifat universal. artinya pedoman mengenai cerita SP diambil dari semua kitab suci , semua nubuat dan semua ramalan. Meski terkadang mungkin bisa saja meleset atau tidak terpenuhi.

2. Lokasi SP diceritakan di dalam ramalan Nostradamus “diantara 3 lautan” dan Suku Aborigin “Tempatnya tidak jauh seperti tetangga yang memiliki matahari di sepanjang musim dan tanah yang subur dan banyak candi”. Sedang di dalam Alquran atau buku tafsirannya mengatakan “Apabila bangsa Israel tetap tidak berubah tabiatnya, maka predikat sebagai bangsa pilihan akan Aku berikan kepada suatu bangsa yang sangat jauh tempatnya dan sangat berbeda dari bangsa Israel. Bangsa itu berada di antara Malik dan Maliki. Dari bangsa tersebut akan muncul seorang pemimpin dari antara kumpulan orang orang bodoh. Dia akan membawa bangsa itu menjadi bangsa yang sangat besar. Dan bangsa itu bisa menjadi besar apabila dipimpin oleh dua agama yang berbeda.”

3. Kepunyaan SP adalah suatu hal dimana hanya dimiliki oleh SP semata.  Cahaya bulat di atas kepala, Mustika di kening, mata yang bersinar , Batu hitam mengkilat di dalam mulut, dada dan punggung bersinar (Kemungkinan sebagai tanda orang suci dan kudus yang diberkati), tangan dan jari tangan bersinar (apakah suatu senjata ?) , Bunga Teratai dan Pusaran Angin serta Tetesan air Brajamusti di tangan (adalah sumber kehidupan).

4. Penampilan SP sangat sederhana. Tidak bersorban atau berjubah atau parlente. Dan seperti kebanyakan orang Indonesia yaitu berkulit sawo matang.

Tulisan ini tidak bertujuan untuk mengundang pro dan kontra tetapi lebih mengarah kepada seseorang yang memang benar dilahirkan di Indonesia dan diimpikan rakyat Indonesia untuk memperbaiki segala tatanan yang sudah carut marut seperti sekarang ini.

Semisal apabila SP tidak seperti orang Indonesia pada umumnya, lalu apalah artinya Sabdo Palon dan Jayabaya bercerita dan berkata banyak hal mengenai Bumi Nuswantoro di masa depan.

Suwun

Wong Cino Kari Sejodho? Salah siapa?

Pembantaian Warga Keturunan China di Nuswantoro
Populasi keturunan Cina di Nuswantoro sekitar 5 persen dari total jumlah penduduk Indonesia saat ini. Tapi kekuatan ekonomi mereka menguasai lebih dari setengah kekuatan ekonomi nasional. Hal ini menimbulkan rasa bangga bagi mereka, namun juga menimbulkan rasa was-was diantara mereka.
                                       Keluarga Cina dengan pembantu pribumi tempo dulu
Sejarah panjang warga keturunan Cina di kepulauan ini tidaklah semulus seperti yang dibayangkan warga pribumi. Ada beberapa kejadian yang membuat mereka mengalami traumatik mendalam. Pembantaian massal terhadap mereka tercatat sudah tiga kali dialami dalam sejarah kehidupan mereka di Nuswantoro ini. Pembantaian ini selalu dilatar belakangi kecemburuan terhadap kekuatan ekonomi mereka.
Ada sebagian orang menilai, pembantaian yang dialami warga Cina adalah buah karma dari kakek moyang mereka, seorang pria beribu Cina yang belakangan mendirikan kerajaan Demak, Jimbun (Raden Fatah) namanya yang telah menyerang dan menghancurkan Kerajaan Majapahit serta menghancurkan peradaban Hindu-Budha di Tanah Jawa.
Kejahatan kemanusiaan pertama yang dialami warga Cina terjadi pada 10 Oktober1740 di Batavia atas perintah Gubernur Jenderal Adrian Volckanier. Tidak kurang 10 ribu orang Cina, pria dan wanita, lansia hingga bayi yang baru lahir dibantai pasukan Belanda dan kaki-tangannya. Padahal saat itu jumlah populasi warga Cina di Batavia “hanya” 80 ribu orang. Sebelum dibunuh, banyak wanitanya yang diperkosa terlebih dahulu. Lantas semua jasad korban dibuang di Kali Bangke (Kali Angke). Setelah peristiwa pembantaian yang berlangsung sepekan itu, Gubernur Jenderal Adrian Volckanier lengser dan digantikan mantan panglimanya sendiri, Baron van Imhoff.
Kejahatan kemanusian selanjutnya pada prolog Peristiwa G30S, lalu Kerusuhan Mei 1998. Ketua Yayasan Solidaritas Bangsa Ester Yusuf mengatakan stigma pro komunis pasca peristiwa G30S sangat melekat pada warga Cina kala itu. “Orang-orang yang dekat dengan PKI masa itu habis. Jaman Orde Baru, hampir semua orang melakukan pelanggaran HAM terhadap warga Tionghoa. Dan tidak pernah ada proses hukum terhadap para pelakunya,” terang Ester, Sabtu (21/1) di Jakarta.
Berbagai pembantaian itu membuat warga keturunan Cina menjadi sangat alergi politik, termasuk mendaftar sebagai CPNS. ”Sejak masih anak-anak, orang tua mereka sudah melarang anak-anaknya jangan berpolitik dan jangan daftar CPNS. Ini akibat trauma masa lalu,” ujar Ester lagi.
Ketua Komunitas Glodok Hermawi Taslim juga mengatakan, akibat alergi politik itu membuat warga Cina memilih pekerjaan berdagang. “Karena engak ada pilihan lain. Berdagang itu kan tidak ada aturannya,” ujar Taslim.
Anehnya, setiap pembantaian yang dilakukan terhadap warga keturunan Cina pasti disusul lengsernya pemimpin nasional kala itu. Pembantaian tahun 1740 disusul lengsernya Gubernur Jenderal kala itu, pembantaian 1965-1966 disusul lengsernya Soekarno, pembantaian Mei 1998 disusul tumbangnya Soeharto. Apakah darah warga keturunan Cina yang ditumbalkan untuk sebuah kekuasaan ?
                                                             Ianfu
Kaitan Tahun Baru Imlek dan Hujan
 
Sudah menjadi keyakinan warga Tionghoa, hujan di Malam Tahun Baru Imlek hingga atau keesokan harinya merupakan berkah bagi mereka dan melapangkan usaha mereka di sepanjang tahun itu, khususnya di Ibukota Negara. Dan dapat dipastikan hujan selalu turun di Jakarta pada Tahun Baru Imlek, entah malam atau siangnya. Namun untuk Malam Tahun Baru Imlek 2563 yang jatuh pada Senin Legi 23 Januari, di Jakarta sama sekali tidak ada turun hujan, bahkan sejak Minggu malam hingga Senin malamnya. Padahal sebelumnya di Jakarta dilanda hujan deras + angin kencang. Hal yang sama pun pernah terjadi pada Tahun Baru Imlek pada Rabu Pon 28 Januari 1998 di Jakarta, kering kerontang tanpa hujan. Pertanda apa ini ?
 
Pernyataan beberapa pihak yang menyebutkan lengsernya Presiden SBY sebelum 17 Agustus 2012 tidak berimbas pada kejahatan kemanusiaan terhadap warga keturunan Cina di bumi Nusantara ini. Semoga saja Tuhan Yang Maha Kuasa segera memunculkan Sang Satrio Piningit Sejati untuk hadir menyelamatkan rakyat Nusantara terlepas dari ras dan etnisnya dari huru-hara itu.
 
Bagi semua warga Tionghoa, kami ucapkan Gong Xi Fa Cai..
Selamat Tahun Baru Imlek 2563.
Wanita adalah Ibu bagi semua. Sepatutnya kita menjaga dan menyayangi mereka apapun permasalahannya

Beberapa mimpi SP saat tertidur (Believe it or Not)

Setiap manusia pasti mengalami hal yang namanya bermimpi pada saat tidur. Demikian pula dengan wadag SP.

Seperti sudah ditulis bahwa saat awal wadag SP tidak menyadari bahwa dirinya adalah sosok yang di nanti, tetapi seiring dengan perjalanan kehidupannya maka lambat laun hal itu akan di mengerti dan dipahaminya. Sama dengan manusia yang lain. Wadag SP pun juga mengalami mimpi mimpi atau bunga tidur . Berikut adalah beberapa mimpi SP yang dapat saya tulis berdasar dari suatu sumber. Mohon maaf bahwa saya tidak akan menjelaskan mengenai sumber tsb.

SP bermimpi tentang

1. Perubahan pada fisiknya yaitu membesar dan meninggi . Sangat tinggi sehingga dia bisa melihat P Jawa berada di kakinya. Bukan terbang. Dia merasa kakinya masih menyentuh tanah(sama halnya dengan cerita si Hitam. secara fisik)

2. Cara berjalannya adalah dengan melewati rumah, halaman , petak sawah dsb. berarti Sp mempunyai langkah yang lebar dan besar ( sama halnya dengan si Hitam)

3. Sebuah bulatan hitam seperti ban roda mobil . awalnya hanya satu lama kelamaan menjadi beberapa sehingga menutupi tubuh SP. terasa sangat berat sekali. (belum diketahui artinya)

4. Dirinya berdiri di suatu pinggiran tebing di daerah timur tengah yang berbukit tandus. memakai pakaian jubah. Kemdian SP melompat ke bawah/ terjun sambil membentangkan tangan membawa tongkat tinggi, Penjelasan yang adadikatakan  karena SP berasal dari atas.

5. Melompat atau mumbul. SP melakukan gerakan melompat yang makin lama makin tinggi mencapai awan. terkadang SP hanya ingin melihat suatu keadaan wilayah , maka dia akan melompat, dan bisa berhenti di atas

Semua mimpi di atas terjadi berulang ulang .

Uraian di atas hanyalah sebuah cerita dari salah satu sumber saya. Sengaja saya angkat sebagai bahan diskusi di sini

Mungkinkah wadag SP bisa bermimpi yang sifatnya mengarah kepada sosok SP nantinya? Atau sama sekali tidak bermimpi. Monggo

Kemunculan Satrio Piningit (Skenario Tuhan atau Konsep Manusia)

Sri Aji Joyoboyo memprediksi pemimpin kepulauanNuswantoro yang berikutnya selama berabad-abad ditunggu oleh orang-orang yang mengharapkan mimpinya kehidupan adil dan makmur menjadi kenyataan. Dan hal ini bisa terjadi hanya dengan kehadiran pemimpin atau pemimpin yang disebut “Ratu Adil” yang memerintah negara ini dengan adil dan bijaksana seperti yang anda inginkan dan orang-orang pada umumnya suatu hari nanti.

Dari yang sarjana Hindia Belanda telah dirumuskan dan dianggap “Ratu Adil” hanya mitos dan pernyataan budaya yang turun-temurun selalu diiingat setiap saat oleh orang-orang biasa yang tidak mendapatkan kemakmuran dan keadilan dari negara mereka sendiri. Para sarjana Belanda yang ahli pada isu-isu budaya Hindia Belanda sudah seharusnya berpendapat bahwa Ratu Adil adalah mitos dengan alasan yang hanya Belanda dan pemerintah Hindia Belanda sendiri adalah mutlak dan berhak untuk menjadi Ratu Adil. Sementara para pemimpin pribumi tidak harus menjadi kesempatan untuk kembali memiliki pemimpin dan negara itu sendiri sebagai “Ratu Adil” bagi rakyat nuswantoro.

Prediksi Joyoboyo tentang sosok Satrio Piningit atau adil ratu benar-benar luar biasa dan terjadi hanya pada saat yang luar biasa, dan tampaknya itu hanya bisa terjadi puluhan atau ratusan tahun kemudian di masa depan. Namun, “Ratu Adil” Joyoboyo yang tidak selalu mengarah pada sosok pemimpin. Ratu Adil itu bisa berarti sistem pemerintahan republik kepulauan, yang telah menulis undang-undang, dan peraturan konstitusional sempurna. Dan tentu saja negara kepulauan Nuswantoro yang sempurna dengan sistem pemerintahan yang misalnya: sistem demokrasi sosialis, Pancasila, atau sistem yang akan menjadi “Ratu Adil” jika Anda benar-benar berjalan dengan baik, adil dan bijaksana – sesuai dengan maksud dan Tujuan pendirian negara diwujudkan dalam konstitusi dan berbagai peraturan tambahan.

Jika Joyoboyo meramalkan Ratu Adil sebagai sistem negara, maka pewaris Joyoboyo Ronggowarsito lanjut memprediksi orang pemimpin Nusantara langsung yang memimpin negara sebanyak tujuh Satrio Piningit. Satrio Piningit Enam telah berturut-turut diperintah, sehingga yang tersisa Satrio Piningit ketujuh “Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu”. Satrio Piningit Joyoboyo hanya akan muncul dalam keadaan darurat “perang” di Nusantara. Sementara Satrio Piningit ketujuh Ronggowarsito dapat muncul setiap saat tanpa menunggu perubahan usia atau keadaan darurat apapun. Siapapun yang muncul untuk memimpin sebagai “Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu” dalam beberapa tahun ke depan akan mengubah negara kepulauan Nuswantoro yang carut marut ini yang menjadi negara “Ratu Adil” menjadi benar-benar mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi rakyat mereka. Dan tentu saja Satrio Piningit mampu bertindak tegas untuk menghukum mereka yang melakukan tindakan sewenang wenang kepada yang lemah yang mengakibatkan penderitaan dan kesengsaraan secara individu ataupun masal.

 

Salam Rahayu sedoyo Sederek

Saya sangat berharap Saudara sekalian bisa menorehkan tulisan mengenai hal yang sifatnya berhubungan dengan kemunculan Satrio Piningit ini. meski berupa Mimpi Tafsiran Penglihatan Wangsit atau sekedar tafsiran.

Rasa wes karasuklagi.
Kesuk lawan kala mangsanipun
Kawises kawasanira Hyang Widhi
Cahyaning wahyu tumelung
Tulus tan kena tinegor

Kelak (sesudah berakhirnya jaman Kalabendu pada tahun windu kuning kencana) memang telah tiba masanya datang jaman Kebaikan di bumi manusia, hal itu tidak dapat dihindarkan oleh siapa pun karena takdir dan kehendak Tuhan (Sang Hyang Widhi).

DARMAGANDHUL (Rengeng rengeng lirih ngantuk)

BÊBUKA.
Sinarkara sarjunireng galih, myat carita dipangikêtira, kiyai
Kalamwadine, ing nguni anggêguru, puruhita mring Raden Budi,mangesthi
amiluta, duta rehing guru, sru sêtya nglampahi dhawah,panggusthine
tan mamang ing lair batin, pinindha lir Jawata.

Satuduhe Raden Budi êning, pan ingêmbun pinusthi ing cipta, sumungkêm
lair batine, tan etung lêbur luluh, pangesthine ing awal akhir,
tinarimeng Bathara, sasêdyanya kabul, agung nugraheng Hyang Suksma,
sinung ilham ing alam sahir myang kabir, dumadya auliya.
Angawruhi sasmiteng Hyang Widdhi, pan biyasa mituhu susêtya, mring
dhawuh wêling gurune, kêdah mêdharkên kawruh, karya suka pirêneng
jalmi, mring sagung ahli sastra, tuladhaning kawruh, kyai Kalamwadi
ngarang, sinung aran srat Darmagandhul jinilid, sinung têmbang

macapat.
Pan katêmben amaos kinteki, têmbang raras rum sêya prasaja, trêwaca
wijang raose, mring tyas gung kumacêlu, yun darbeya miwah nimpêni,
pinirit tinuladha, lêlêpiyanipun, sawusnya winaos tamat, linaksanan
tinêdhak tinurun sungging, kinarya nglipur manah.
Pan sinambi-sambi jagi panti, sasêlanira ngupaya têdha, kinarya cagak
lênggahe, nggennya dama cinubluk, mung kinarya ngarêm-arêmi,
tarimanireng badan, anganggur ngêthêkur, ngêbun-bun pasihaning Hyang,
suprandene tan kalirên wayah siwi, sagotra minulyarja.
Wus pinupus sumendhe ing takdir, pan sumarah kumambang karseng Hyang,
ing lokhilmakful tulise, panitranira nuju, ping trilikur ri Tumpak
manis, Ruwah Je warsanira, Sancaya kang windu, masa Nêm ringkêlnya
Aryang, wuku Wukir sangkalanira ing warsi: wuk guna ngesthi Nata
(taun Jawa 1830).

[Bagian Pembukaan tidak diterjemahkan karena penterjemah tidak paham
bahasa Jawa klasik]

DARMAGANDHUL.

Ing sawijining dina Darmagandhul matur marang Kalamwadi mangkene “Mau-
maune kêpriye dene wong Jawa kok banjur padha ninggal agama Buddha
salin agama Islam?”

(Pada suatu hari bertanyalah Darmagandhul pada Kalamwadi sebagai
berikut, “Asal mulanya bagaimana, kok orang Jawa meninggalkan Agama
Buddha dan berubah menganut Agama Islam?”)

Wangsulane Ki Kalamwadi: “Aku dhewe iya ora pati ngrêti, nanging aku
wis tau dikandhani guruku, ing mangka guruku kuwi iya kêna dipracaya,
nyaritakake purwane wong Jawa padha ninggal agama Buddha banjur salin
agama Rasul”.

(Jawabannya Ki Kalamwadi, “Saya sendiri juga tidak begitu mengerti,
tapi saya sudah pernah diberi tahu oleh guru saya, selain itu guru
saya itu juga bisa dipercaya, [Beliau] menceritakan asal mulanya
orang Jawa meninggalkan Agama Buddha dan berganti menganut agama
Rasul (Islam).”)

Ature Darmagandhul: “Banjur kapriye dongengane?”

(Darmagandhul bertanya, “Bagaimana kalau begitu ceritanya?”)

Ki Kalamwadi banjur ngandika maneh: “Bab iki satêmêne iya prêlu
dikandhakake, supaya wong kang ora ngrêti mula-bukane karêben ngrêti”.

(Ki Kalamwadi lalu berkata lagi, “Hal ini sesungguhnya juga perlu
diungkapkan agar orang yang tidak tahu asal mulanya menjadi tahu.”)

Ing jaman kuna nagara Majapahit iku jênênge nagara Majalêngka, dene
ênggone jênêng Majapahit iku, mung kanggo pasêmon, nanging kang
durung ngrêti dêdongengane iya Majapahit iku wis jênêng sakawit. (1)
Ing nagara Majalêngka kang jumênêng Nata wêkasan jêjuluk Prabu
Brawijaya.

(Pada zaman kuno, Kerajaan Majapahit itu namanya Kerajaan Majalengka,
sedangkan nama Majapathit itu, hanya sebagai perumpamaan, tetapi bagi
yang belum tahu ceritanya, Majapahit itu telah merupakan namanya
semenjak awal. (1) Di Kerajaan Majapahit yang berkuasa sebagai Raja
adalah Prabu Brawijaya.)

Ing wêktu iku, Sang Prabu lagi kalimput panggalihe, Sang Prabu krama
oleh Putri Cêmpa, (2) ing mangka Putri Cêmpa mau agamane Islam,
sajrone lagi sih-sinihan, Sang Rêtna tansah matur marang Sang Nata,
bab luruhe agama Islam, sabên marak, ora ana maneh kang diaturake,
kajaba mung mulyakake agama Islam, nganti njalari katariking
panggalihe Sang Prabu marang agama Islam mau.

(Pada saat itu, Sang Prabu sedang dimabuk asmara, ia menikah dengan
Putri Cempa, (2) karena Putri Cempa itu beragama Islam, maka saat
sedang berdua-duaan, Sang Putri [selalu] berbicara pada sang Raja,
mengenai agama Islam. Tiap kali berkata-kata, tidak ada hal lain yang
dibicarakan, selain mengagung-agungkan agama Islam, sehingga
menyebabkan tertariknya hati Sang Prabu akan agama Islam.)

Ora antara suwe kaprênah pulunane Putri Cêmpa kang aran Sayid Rakhmat
tinjo mênyang Majalêngka, sarta nyuwun idi marang Sang Nata,
kaparênga anggêlarake sarengate agama Rasul.

(Tidak berama lama datanglah pengikut Putri Cempa yang bernama Sayid
Rakhmat ke Majalengka. Ia minta izin pada sang raja, untuk menggelar
penyebaran agama Rasul (Islam).)

Sang Prabu iya marêngake apa kang dadi panyuwune Sayid rakhmat mau.
Sayid Rakhmat banjur kalakon dhêdhukuh ana Ngampeldênta ing Surabaya
(3) anggêlarake agama Rasul. Ing kono banjur akeh para ngulama saka
sabrang kang padha têka, para ngulama lan para maulana iku padha
marêk sang Prabu ing Majalêngka, sarta padha nyuwun dhêdhukuh ing
pasisir.

(Sang Prabu juga mengabulkan apa yang diminta oleh Sayid Rakhmat itu.
Sayid Rakhmat lalu mendirikan sebuah desa kecil (dukuh) di
Ngampeldenta, Surabaya. Ia mengajar agama Islam di sana. Selanjutnya
makin banyak para ulama dari seberang yang datang. Para ulama dan
para maulana itu beramai-ramai menghadap sang raja di Majalengka,
serta sama-sama meminta desa kecil di daerah pesisir.)

Panyuwunan mangkono mau uga diparêngake dening Sang Nata. Suwe-suwe
pangidhêp mangkono mau saya ngrêbda, wong Jawa banjur akeh bangêt
kang padha agama Islam.

(Permintaan tersebut juga dikabulkan oleh Sang Raja. Lama-lama
perkampungan kecil semacam itu makin menjamur, orang Jawa makin
banyak yang beragama Islam.)

Sayid Kramat dadi gurune wong-wong kang wis ngrasuk agama Islam
kabeh, dene panggonane ana ing Benang (4) bawah Tuban. Sayid Kramat
iku maulana saka ing ‘Arab têdhake Kanjêng Nabi Rasulu’llah, mula
bisa dadi gurune wong Islam. Akeh wong Jawa kang padha kelu maguru
marang Sayid Kramat. Wong Jawa ing pasisir lor sapangulon sapangetan
padha ninggal agamane Buddha, banjur ngrasuk agama Rasul. Ing
Blambangan sapangulon nganti tumêka ing Bantên, wonge uga padha kelu
rêmbuge Sayid Kramat.

(Sayid Kramat menjadi gurunya orang-orang yang sudah menganut agama
Islam. Tempat menetapnya berada di Benang (juga disebut Bonang –
penterjemah), Tuban. Sayid Kramat itu adalah pemuka agama yang
berasal dari Arab, atau tempat kelahirannya Nabi Muhammad, sehingga
dapat menjadi gurunya para penganut agama Islam. Banyak orang Jawa
yang berguru pada Sayid Kramat. Orang Jawa di pesisir utara, baik
bagian barat maupun timur, sama-sama meninggalkan agama Buddha dan
berpindah masuk Islam. Dari Blambangan ke arah barat hingga Banten,
banyak orang yang telah mematuhi perkataan Sayid Kramat.)

Mangka agama Buddha iku ana ing tanah Jawa wis kêlakon urip nganti
sewu taun, dene wong-wonge padha manêmbah marang Budi Hawa. Budi iku
Dzate Hyang Widdhi, Hawa iku karêping hati, manusa ora bisa apa- apa,
bisane mung sadarma nglakoni, budi kang ngobahake.

(Pada saat itu agama Buddha telah dianut di tanah Jawa selama seribu
tahun, para penganutnya menyembah pada Budi Hawa. Budi adalah Zat
dari Hyang Widdhi, sedangkan Hawa itu adalah kehendak hati. Manusia
itu tidak dapat berbuat apa-apa selain berusaha menjalankan, tetapi
budi yang mengubah segalanya.)

Sang Prabu Brawijaya kagungan putra kakung kang patutan saka Putri
Bangsa Cina, miyose putra mau ana ing Palembang, diparingi têtêngêr
Raden Patah.

(Raja Brawijaya memiliki putra dari seorang putri berkebangsaan Cina.
Putranya itu lahir di Palembang, dan diberi nama Raden Patah.)

Barêng Raden Patah wis diwasa, sowan ingkang rama, nganti sadhereke
seje rama tunggal ibu, arane Raden Kusen. Satêkane Majalêngka Sang
Prabu kewran panggalihe ênggone arêp maringi sêsêbutan marang
putrane, awit yen miturut lêluri saka ingkang rama, Jawa Buddha
agamane, yen nglêluri lêluhur kuna, putraning Nata kang pambabare ana
ing gunung, sêsêbutane Bambang.

(Tatkala Raden Patah sudah dewasa, ia mengunjungi ayahnya. Ia
memiliki saudara lain ibu yang bernama Raden Kusen. Setibanya di
Majalengka Sang Prabu bingung hatinya untuk memberi nama pada
puteranya. Sebab menurut tradisi leluhur Jawa yang beragama Buddha,
putra raja yang lahir di gunung, disebut Bambang.)

Yen miturut ibu, sêsêbutane: Kaotiang, dene yen wong ‘Arab sêsêbutane
Sayid utawa Sarib. Sang Prabu banjur nimbali patih sarta para nayaka,
padha dipundhuti têtimbangan ênggone arêp maringi sêsêbutan ingkang
putra mau. Saka ature Patih, yen miturut lêluhur kuna putrane Sang
Prabu mau disêbut Bambang, nanging sarehne ibune bangsa Cina, prayoga
disêbut Babah, têgêse pambabare ana nagara liya.

(Kalau menurut ibunya, namanya adalah Kaotiang, yaitu kalau dalam
bahasa Arab disebut Sayid atau Sarib. Sang Prabu lalu memanggip para
patih dan pegawai kerajaan. Mereka diminta pendapatnya di dalam
memberikan nama bagi putranya itu. Patih berkata bahwa kalau menurut
leluhur zaman dahulu, anak raja itu seharusnya diberi nama Bambang,
tetapi karena ibunya berkembangsaan Cina, maka seharusnya disebut
Babah, yang artinya lahirnya ada di negara lain.)

Ature Patih kang mangkono mau, para nayaka uga padha mupakat, mula
Sang Nata iya banjur dhawuh marang padha wadya, yen putra Nata kang
miyos ana ing Palembang iku diparingi sêsêbutan lan asma Babah Patah.
Katêlah nganti tumêka saprene, yen blastêran Cina lan Jawa sêsêbutane
Babah.

(Pendapat sang patih tersebut juga disepakati oleh para pegawai
kerajaan. Oleh karenanya sang raja mengumumkan bahwa putranya itu
yang lahir di Palembang, diberi nama Babah Patah. Hingga sampai
sekarang, orang yang berdarah campuran Cina dan Jawa diberi nama
Babah.)

Ing nalika samana, Babah Patah wêdi yen ora nglakoni dhawuhe ingkang
rama, mulane katone iya sênêng, sênênge mau amung kanggo samudana
bae, mungguh satêmêne ora sênêng bangêt ênggone diparingi sêsêbutan
Babah iku.

(Babah Patah, takut kalau tidak mematuhi sabda bapaknya, karena itu
bersikap seolah-olah senang. Padahal ia tidak benar-benar senang-
senang diberi nama Babah.)

Ing nalika iku Babah Patah banjur jinunjung dadi Bupati ing Dêmak,
madanani para bupati urut pasisir Dêmak sapangulon, sarta Babah Patah
dipalakramakake oleh ing Ngampelgadhing, kabênêr wayahe kiyai Agêng
Ngampel.

(Kemudian Babah Patah diangkat menjadi bupati di Demak, untuk
mengepalai para bupati di pesisir Demak ke arah barat. Babah Patah
lalu diperintahkan untuk berguru di Ngampelgadhing, yang kebetulan
dikepalai oleh Kyai Ageng Ngampel.)

Barêng wis sawatara masa, banjur boyong marang Dêmak, ana ing desa
Bintara, sarta sarehne Babah Patah nalika ana ing Palembang agamane
wis Islam, anane ing Dêmak didhawuhi nglêstarekake agamane, dene
Raden Kusen ing nalika iku jinunjung dadi Adipati ana ing Têrung (5),
pinaringan nama sarta sêsêbutan Raden Arya Pêcattandha.

(Ketika waktunya telah tiba, ia pindah ke Demak, yakni ke desa
Bintara. Sebetulnya Babah Patah telah beragama Islam saat di
Palembang. Oleh sebab itu, tatkala telah berada di Demak, ia
diperintahkan untuk melestarikan agamanya. Sedangkan Raden Kusen
diangkat menjadi adipati di Terung, dan diberi gelar Raden Arya
Pecattandha.)

Suwening suwe sarak Rasul saya ngrêbda, para ngulama padha nyuwun
pangkat sarta padha duwe sêsêbutan Sunan, Sunan iku têgêse budi,
uwite kawruh kaelingan kang bêcik lan kang ala, yen wohe budi ngrêti
marang kaelingan bêcik, iku wajib sinuwunan kawruhe ngelmu lair
batin. Ing wêktu iku para ngulama budine bêcik-bêcik, durung padha
duwe karêp kang cidra, isih padha cêgah dhahar sarta cêgah sare.

(Makin lama agama Rasul makin menyebar luas, para ulama menjadi ingin
memiliki gelar, dimana kemudian mereka digelari Sunan. Sunan itu
artinya budi, pohon pengetahuan kesadaran pada yang baik dan buruk.
Jika buah budi itu menyadari akan kebaikan, maka ia wajib menuntut
ilmu lahir dan bathin. Pada saat itu para ulama masih memiliki hati
yang baik, belum memiliki keinginan buruk, masih menahan diri dari
makan dan tidur.)

Sang Prabu Brawijaya kagungan panggalih, para ngulama sarake Buddha,
kok nganggo sêsêbutan Sunan, lakune isih padha cêgah mangan, cêgah
turu. Yen sarak rasul, sirik cêgah mangan turu, mung nuruti rasaning
lesan lan awak. Yen cêgah mangan rusak, Prabu Brawijaya uga banjur
paring idi. Suwe-suwe agama Rasul saya sumêbar.

(Sang Prabu Brawijaya jadi jatuh hati, para ulama itu dikiranya
Buddha, tetapi kok disebut Sunan. Tingkah laku mereka masih menahan
diri dari makan dan tidur. Apabila mengikuti rasul, maka mereka
[seharusnya] bukan menahan diri dari makan dan tidur, melainkan hanya
menuruti hawa nafsu keinginan. Tatkala kebiasaan menahan diri dari
makan dan tidur telah rusak, tetapi Prabu Brawijaya telah terlanjur
memberikan angin. Makin lama agama rasul makin menyebar.)

Ing wêktu iku ana nalar kang aneh, ora kêna dikawruhi sarana netra
karna sarta lesan, wêtune saka engêtan, jroning utêk iku yen diwarahi
budi nyambut gawe, kang maca lan kang krungu nganggêp têmên lan ora,
iya kudu ditimbang ing sabênêre, saiki isih ana wujuding patilasane,
isih kêna dinyatakake, mula saka pangiraku iya nyata.

(Pada saat itu ada peristiwa-peristiwa yang aneh yang tidak masuk
akal. Peristiwa-peristiwa tersebut diketahui dari ingatan semata.
Apabila membaca atau mendengar, maka perlu dipertimbangkan benar dan
tidaknya. Tetapi karena sampai sekarang masih ada peninggalannya,
maka menurut pendapatku hal tersebut benar-benar terjadi.)

Dhek nalika samana Sunan Benang sumêdya tindak marang Kadhiri, kang
ndherekake mung sakabat loro. Satêkane lor Kadhiri, iya iku ing tanah
Kêrtasana, kêpalangan banyu, kali Brantas pinuju banjir. Sunan Benang
sarta sakabate loro padha nyabrang, satêkane wetan kali banjur niti-
niti agamane wong kono apa wis Islam, apa isih agama Budi.

(Pada saat itu Sunan Benang bersiap-siap untuk mengunjungi Kediri,
yang mengantarnya hanya dua orang sahabat. Ketika tiba di utara
Kediri, yaitu di tanah Kertasana, mereka terhalang oleh air. Sungai
Brantas saat itu kebetulan sedang banjir. Sunan Benang dan dua orang
sahabatnya sama-sama menyeberang, dan ketika telah tiba di seberang
ia mencari tahu apakah orang di sana telah beragama Islam, ataukah
masih menganut agama Budi.)

Ature Ki Bandar wong ing kono agamane Kalang, sarak Buddha mung
sawatara, dene kang agama Rasul lagi bribik-bribik, wong ing kono
akeh padha agama Kalang, mulyakake Bandung Bandawasa. Bandung
dianggêp Nabine, yen pinuji dina Riyadi, wong-wong padha bêbarêngan
mangan enak, padha sênêng-sênêng ana ing omah. Sunan Benang
ngandika: “Yen ngono wong kene kabeh padha agama Gêdhah, Gêdhah iku
ora irêng ora putih, tanah kene patut diarani Kutha Gêdhah”.

(Menurut Ki Bandar, orang di sana agamanya Kalang, bukan Buddha namun
mirip, sedangkan agama Rasul masih sedikit sekali tersebarnya. Orang
di sana yang sebagian besar beragama Kalang memuliakan Bandung
Bandawasa. Bandung dianggap nabi mereka. Pada saat hari perayaan
keagamaan mereka bersama-sama makan enak dan bersenang-senang di
rumah. Sunan Benang berkata, “Jika begitu maka orang di sini sama-
sama beragama Gedhah, Gedhah itu tidak hitam ataupun putih. Tempat
ini pantas disebut Kutha Gedhah.”)

Ki Bandar matur: “Dhawuh pangandika panjênêngan, kula ingkang
nêkseni”. Tanah saloring kutha kadhiri banjur jênêng Kutha Gêdhah,
nganti têkane saiki isih karan Kutha Gêdhah, nanging kang mangkono
mau arang kang padha ngrêti mula-bukane.

(Ki Bandar menjawab, “Baik, yang mulia, saya yang menjadi saksi.”
Tempat di bagian utara Kediri namanya mulai sekarang adalah Kutha
Gedhah.” Hingga saat ini masih disebut dengan Kutha Gedhah, tetapi
orang jarang mengetahui asal mula nama tersebut.)

Sunan Benang ngandika marang sakabate: “Kowe goleka banyu imbon
mênyang padesan, kali iki isih banjir, banyune isih buthêk, yen
diombe nglarani wêtêng, lan maneh iki wancine luhur, aku arêp wudhu,
arêp salat”.

(Sunan Benang berkata pada sahabatnya, “Carilah air minum di desa,
sungai masih banjir dan airnya keruh. Jika diminum maka akan
menyebabkan sakit perut. Selain itu sudah waktunya salat Lohor. Saya
mau wudhu untuk salat”)

Sakabate siji banjur lunga mênyang padesan arêp golek banyu, têkan
ing desa Pathuk ana omah katone suwung ora ana wonge lanang, kang ana
mung bocah prawan siji, wajah lagi arêp mêpêg birahi, ing wêktu iku
lagi nênun. Sakabat têka sarta alon calathune: “mBok Nganten, kula
nêdha toya imbon bêning rêsik”. mBok Prawan kaget krungu swarane wong
lanang, barêng noleh wêruh lanang sajak kaya santri, MBok Prawan
salah cipta, pangrasane wong lanang arêp njêjawat, mêjanani marang
dheweke, mula ênggone mangsuli nganggo têmbung saru: “nDika mêntas
liwat kali têka ngangge ngarani njaluk banyu imbon, ngriki botên
entên carane wong ngimbu banyu, kajaba uyuh kula niki imbon bêning,
yen sampeyan ajêng ngombe”.

(Salah seorang sahabatnya lalu pergi ke desa mencari air minum. Ia
sampai di desa Pathuk dan menjumpai rumah yang nampaknya tidak ada
prianya. Yang ada hanya seorang gadis perawan menjelang dewasa,
dimana saat itu ia sedang menenun. Sahabat Sunan Benang mendekat
serta berkata perlahan, “Mbok Nganten (panggilan terhadap wanita
dalam bahasa Jawa), saya minta air minum yang bening dan bersih.”
Gadis perawan itu terkejut mendengar suara pria, ketika menoleh ia
melihat seorang pria yang nampaknya mirip santri. Gadis perawan
tersebut salah sangka, ia mengira orang tersebut ingin menggodanya,
maka dijawabnya dengan perkataan kotor, “Anda menyeberang sungai
datang kemari untuk minta air minum. Di sini tidak ada air minum,
selain air kencing saya yang bening, jika Anda ingin meminumnya.”)

Santri krungu têtêmbungan mangkono banjur lunga tanpa pamit lakune
dirikatake sarta garundêlan turut dalan, satêkane ngarsane Sunan
Benang banjur ngaturake lêlakone nalika golek banyu. Sunan Benang
mirêng ature sakabate, bangêt dukane, nganti kawêtu pangandikane
nyupatani, ing panggonan kono disabdakake larang banyu, prawane aja
laki yen durung tuwa, sarta jakane aja rabi yen durung dadi jaka
tuwa, barêng kêna dayaning pangandika mau, ing sanalika kali Brantas
iline dadi cilik, iline banyu kang gêdhe nyimpang nrabas desa alas
sawah lan patêgalan, akeh desa kang padha rusak, awit katrajang
ilining banyu kali kang ngalih iline, kali kang maune iline gêdhe
sanalika dadi asat. Nganti tumêka saprene tanah Gêdhah iku larang
banyu, jaka lan prawane iya nganti kasep ênggone omah-omah. Sunan
Benang têrus tindak mênyang Kadhiri.

(Sang santri yang mendengar ucapan kotor itu pergi tanpa pamit dan
jalannya dicepat-cepatkan. Ia menggerutu dalam hati dan menceritakan
pengalamannya di hadapan Sunan Bonang. Ketika mendengar hal itu Sunan
Bonang marah sekali, ia kemudian mengucapkan sumpah serapah pada
warga desa tersebut. Tempat itu dikutuk agar susah mendapatkan air,
para gadisnya akan terlambat menikah dan demikian pula kaum
perjakanya. Sesudah kutukan tersebut diucapkan aliran Sungai Brantas
menjadi kecil. Aliran sungai yang pada mulanya besar itu menyimpang
dan membanjiri desa, sawah, dan ladang. Banyak desa yang rusak karena
diterjang aliran sungai yang berpindah alirannya. Sungai yang pada
mulanya deras alirannya itu menjadi surut. Hingga saat ini tempat
tersebut menjadi susah air serta gadis dan perjakannya terlambat
menikah. Sunan Benang melanjutkan perjalanannya ke Kediri.)

Ing wêktu iki ana dhêmit jênênge Nyai Plêncing, iya iku dhêmit ing
sumur Tanjungtani, tansah digubêl anak putune, padha wadul yen ana
wong arane Sunan Benang, gawene nyikara marang para lêlêmbut, ngêndêl-
êndêlake kaprawirane, kali kang saka Kadhiri disotake banjur asat
sanalika, iline banjur salin dalan kang dudu mêsthine, mula akeh
desa, alas, sawah sarta patêgalan, kang padha rusak, iya iku saka
panggawene

(Pada waktu itu ada seorang makhluk halus bernama Nyai Plencing,
yakni makhluk halus yang berdiam di sumur Tanjungtani. Anak cucunya
para berkeluh kesah padanya, mereka melaporkan tindakan orang bernama
Sunan Benang yang kegemarannya menyiksa para makhluk halus serta
memamerkan kesaktiannya. Sungai yang mengalir di Kediri dijadikan
surut airnya serta berpindah alirannya ke arah lain yang tidak
seharusnya. Sehingga banyak desa, hutan, sawah, dan ladang yang
rusak. Semua itu akibat ulah Sunan Bonang.)

Sunan Benang, kang uga ngêsotake wong ing kono, lanang wadon ngantiya
kasep ênggone omah-omah, sarta kono disotake larang banyu sarta
diêlih jênênge tanah aran Kutha Gêdhah, Sunan Benang dhêmêne salah
gawe. Anak putune Nyai Plêncing padha ngajak supaya Nyai Plêncing
gêlêma nêluh sarta ngrêridhu Sunan Benang, bisaa tumêka ing pati,
dadi ora tansah ganggu gawe. Nyai Plêncing krungu wadule anak putune
mangkono mau, enggal mangkat mêthukake lakune Sunan Benang, nanging
dhêmit-dhêmit mau ora bisa nyêdhaki Sunan Benang, amarga rasane awake
padha panas bangêt kaya diobong.

(Sunan Bonang juga mengutuk orang di sana, gadis dan perjaka akan
terlambat kimpoi. Sunan Benang itu kegemarannya bertindak salah. Anak
cucu Nyai Plencing bersama-sama memohon Nyai Plencing agar bersedia
menyantet Sunan Benang sampai mati dan tidak menganggu mereka lagi.
Nyai Plencing yang mendengar keluh kesan anak cucunya itu, segera
pergi menjumpai Sunan Benang. Tetapi makhluk-makhluk halus tersebut
tidak dapat mendekati Sunan Benang, karena tubuh mereka serasa panas
terbakar.)

Dhêmit-dhêmit mau banjur padha mlayu marang Kadhiri, satêkane ing
Kadhiri, matur marang ratune, ngaturake kahanane kabeh. ratune
manggon ing Selabale. (6) Jênênge Buta Locaya, dene Selabale iku
dununge ana sukune gunung Wilis. Buta Locaya iku patihe Sri Jayabaya,
maune jênênge kiyai Daha, duwe adhi jênênge kiyai Daka. Kiyai daha
iki cikal-bakal ing Kadhiri, barêng Sri Jayabaya rawuh, jênênge kiyai
Daha dipundhut kanggo jênênge nagara, dheweke diparingi Buta Locaya,
sarta banjur didadekake patihe Sang Prabu Jayabaya.

(Makhluk-makhluk halus itu lalu lari ke Kediri. Ketika tiba di sana
mereka melaporkan pada rajanya segala hal yang mereka alami. Raja
makhluk halus itu berdiam di Selabale, namanya adalah Buta Locaya.
Selabale itu letaknya ada di kaki gunung Wilis. Buta Locaya itu
adalah patih Sri Jayabaya, dulu namanya adalah kyai Daha dan memiliki
adik bernama Kyai Daka. Kyai Daha itu asal usulnya ada di Kediri.
Pada saat Sri Jayabaya tiba di sana, nama Kyai Daha itu dijadikan
nama negara dan ia kemudian diberi nama Buta Locaya dan dijadikan
patih oleh Sang Prabu Jayabaya.)

Buta iku têgêse: butêng utawa bodho, Lo têgêse kowe, caya têgêse:
kêna dipracaya, kiyai Buta Locaya iku bodho, nanging têmên mantêp
sêtya ing Gusti, mulane didadekake patih. Wiwite ana sêbutan kiyai,
iya iku kiyai daha lan kiyai Daka, kiyai têgêse: ngayahi anak putune
sarta wong-wong ing kanan keringe.

(Buta itu artinya buteng atau bodoh, Lo itu artinya kamu, caya
artinya bisa dipercaya. Sehingga Kyai Buta Locaya itu artinya bodoh,
tetapi kawan yang setia dan patuh pada pimpinannya. Oleh karena itu
ia dijadikan patih. Yang pertama kali bergelar kyai adalah Kyai Daha
dan Kyai Daka. Kyai itu artinya mengayomi anak cucu dan orang-orang
yang berada di kanan-kirinya.)

Jêngkare Sri Narendra anjujug ing omahe kiyai Daka, ana ing kono Sang
Prabu sawadya-balane disugata, mula sang Prabu asih bangêt marang
kiyai Daka, jênênge kiyai Daka dipundhut kanggo jênêng desa, dene
kiyai Daka banjur diparingi jênêng kiyai Tunggulwulung, sarta dadi
senapatining pêrang.

(Sang raja lalu menuju ke rumah Kyai Daka. Di sana Sang Prabu
Jayabaya beserta seluruh pengikut dan pengawalnya disambut dengan
meriah, sehingga sang raja sangat mengasihi Kyai Daka. Nama Kyai Daka
dijadikan nama desa dan selain itu ia diberi gelar Kyai Tunggulwulung
serta diangkat menjadi panglima perang.)

Pertemuan Sunan Bonang dengan Buta Locaya (Rengeng rengeng lirih ngantuk)

Samuksane Sang Prabu Jayabaya lan putrane putri kang aran Ni Mas Ratu
Pagêdhongan, Buta Locaya lan kiyai Tunggulwulung uga padha muksa; Ni
Mas Ratu Pagêdhongan dadi ratuning dhêmit nusa Jawa, kuthane ana
sagara kidul sarta jêjuluk Ni Mas Ratu Anginangin. Sakabehe lêlêmbut
kang ana ing lautan dharatan sarta kanan keringe tanah Jawa, kabeh
padha sumiwi marang Ni Mas Ratu Anginangin.
Buta Locaya panggonane ana ing Selabale, dene kiyai Tunggulwulung ana
ing gunung Kêlut, rumêksa kawah sarta lahar, yen lahar mêtu supaya
ora gawe rusaking desa sarta liya-liyane.

(Ketika Sang Prabu Jayabaya dan putrinya yang bernama Ni Mas Ratu
Pagedhongan telah moksha, maka Buta Locaya dan Kyai Tunggulwulung
juga ikut moksha. Ni Mas Ratu Pagedhongan menjadi ratu makhluk halus
seluruh Jawa. Pusat kerajannya ada di laut selatan dan digelari Ni
Mas Ratu Anginangin. Seluruh makhluk halus yang ada di lautan dan
daratan serta juga kanan kiri Tanah Jawa bersama-sama takluk pada Ni
Mas Ratu Anginangin. Buta Locaya kediamannya ada di Selabale,
sedangkan Kyai Tunggulwulung ada di Gunung Kelut. Ia mengawasi dan
dan lahar agar supaya saat lahar keluar tidak merusak desa dan lain
sebagainya.)

Ing wêktu iku kiyai Buta Locaya lagi lênggah ana ing kursi kêncana
kang dilemeki kasur babut isi sari, sarta kinêbutan êlaring mêrak,
diadhêp patihe aran Megamêndhung, lan putrane kakung loro uga padha
ngadhêp, kang tuwa arane Panji Sêktidiguna, kang anom aran panji
Sarilaut.

(Waktu itu Kyai Buta Locaya sedang duduk di singgasananya yang
dialasi kasur permadani. Datang mengahadap patihnya bernama
Megamendhung dan dua putra tertuanya juga hadir. Yang lebih tua
bernama Panji Sektiguna dan adiknya bernama Sarilaut.)

Buta Locaya lagi ngandikan karo kang padha ngadhêp, kaget kasaru
têkane Nyai Plêncing, ngrungkêbi pangkone, matur bab rusake tanah lor
Kadhiri, sarta ngaturake yen kang gawe rusak iku, wong saka Tuban
kang sumêdya lêlana mênyang Kadhiri, arane Sunan Benang. Nyai
Plêncing ngaturake susahe para lêlêmbut sarta para manusa.

(Buta Locaya sangat terkejut dengan laporan Nyai Plencing mengenai
tingkah polah Sunan Benang yang merusak tanah di utara Kediri. Ia
mengatakan bahwa Sunan Benang yang merusak itu orang dari Tuban yang
berkelana ke Kediri. Nyai Plencing mengisahkan penderitaan para
makhluk halus dan manusia.)

Buta Locaya krungu wadule Nyai Plêncing mangkono mau bangêt dukane,
sarirane nganti kaya gêni, sanalika banjur nimbali putra-wayahe sarta
para jin pêri parajangan, didhawuhi nglawan Sunan Benang. Para
lêlêmbut mau padha sikêp gêgaman pêrang, sarta lakune barêng karo
angin, ora antara suwe lêlêmbut wis têkan ing saêloring
desa Kukum, ing kono Buta Locaya banjur maujud manusa aran kiyai
Sumbre, dene para lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha ora
ngaton, kiyai Sumbre banjur ngadêg ana ing têngah dalan sangisoring
wit sambi, ngadhang lakune Sunan Benang kang saka êlor.

(Buta Locaya mendengar laporan Nyai Plencing itu menjadi sangat
marah. Wajahnya menjadi merah padam bagaikan api. Ia segera memanggil
anak-anaknya dan juga para makhluk halus jin serta peri. Ia mengajak
mereka melawan Sunan Benang. Para makhluk halus itu bersiap-siap
untuk perang. Mereka berjalan secepat angin, tidak berapa lama mereka
tiba di utara desa Kukum, di sana Buta Locaya beralih wujud menjadi
manusia yang bernama Kyai Sumbre. Ia kemudian berdiri di tengah
jalan, di bawah pohon sambi, menghadang perjalanan Sunan Benang dari
utara.)

Ora antara suwe têkane Sunan Benang saka lor, Sunan Benang wis ora
kasamaran yen kang ngadêg ana sangisoring wit sambi iku ratuning
dhêmit, sumêdya ganggu gawe, katitik saka awake panas kaya mawa. Dene
lêlêmbut kang pirang-pirang ewu mau padha sumingkir adoh, ora bêtah
kêna prabawane Sunan Benang. Mangkono uga Sunan Benang uga ora bêtah
cêdhak karo kiyai Sumbre, amarga kaya dene cêdhak mawa, kiyai Sumbre
mangkono uga.

(Tidak lama kemudian, Sunang Bonang datang dari arah utara. Ia sudah
mengetahui bahwa yang berdiri di bawah pohon itu rajanya makhluk
halus yang terlah bersiap-siap untuk menganggu dirinya. Dimana hal
itu diketahui dari hawa panas yang keluar dari makhluk halus
tersebut. Para makhluk halus yang berjumlah banyak tersebut bersama-
sama menyingkir jauh-jauh karena tidak tahan dengan hawa kekuatan
Sunan Bonang. Namun Sunan Bonang juga tidak tahan berada di dekat
Kyai Sumbre, karena kemanapun Sunan Bonang menyingkir, maka Kyai
Sumbre ada di tempat itu pula.)

Sakabat loro kang maune padha sumaput, banjur padha katisên, amarga
kêna daya prabawane kiyai Sumbre.

(Dua orang sahabat Sunan Bonang pingsan, karena kedinginan. Mereka
tidak tahan terkena hawa kekuatan Kyai Sumbre.)

Sunan Benang andangu marang kiyai Sumbre: “Buta Locaya! Kowe kok
mêthukake lakuku, sarta nganggo jênêng Sumbre, kowe apa padha
slamêt?”.

(Sunan Bonang menegur Kyai Sumbre, “Buta Locaya! Kamu menghadang
jalanku, serta menyamar sebagai Sumbre. Apa kamu cari mati?”)

Buta Locaya kaget bangêt dene Sunan Benang ngrêtos jênênge dheweke,
dadi dheweke kawanguran karêpe, wusana banjur matur marang Sunan
Benang: “Kados pundi dene paduka sagêd mangrêtos manawi kula punika
Buta Locaya?”.

(Buta Locaya terkejut bukan main, karena Sunan Bonang mengetahui
namanya, sehingga ia merasa ketahuan rahasianya. Lalu bertanyalah ia
pada Sunan Bonang, “Darimana Anda dapat mengetahui bahwa saya adalah
Buta Locaya?”)

Sunan Benang ngandika: “Aku ora kasamaran, aku ngrêti yen kowe
ratuning dhêmit Kadhiri, jênêngmu Buta Locaya.”.

(Sunan Bonang berkata, “Aku tidak tertipu, aku tahu bahwa engkau
adalah rajanya para makhluk halus di Kediri, namamu adalah Buta
Locaya.”)

Kiyai Sumbre matur marang Sunan Benang: “Paduka punika tiyang punapa,
dene mangangge pating gêdhabyah, dede pangagêm Jawi. Kados wangun
walang kadung?”.

(Kyai Sumbre menjawab pada Sunan Bonang, “Anda itu orang mana, kok
tingkah lakunya tidak sopan, beda dengan adat istiadat Jawa. Seperti
belalang saja [loncat sini loncat sana.”)

Sunan Benang ngandika maneh: “Aku bangsa ‘Arab, jênêngku Sayid
Kramat, dene omahku ing Benang tanah Tuban, mungguh kang dadi sêdyaku
arêp mênyang Kadhiri, pêrlu nonton patilasan kadhatone Sang Prabu
Jayabaya, iku prênahe ana ing ngêndi?”.

(Sunan Bonang berkata lagi, “Aku orang Arab, namaku adalah Sayid
Kramat, sedangkan rumah saya ada di Bonang, Tuban. Aku ke Kediri
karena ingin melihat peninggalan istana Sang Prabu Jayabaya. Istana
tersebut dulunya berada di mana?”)

Buta Locaya banjur matur: “Wetan punika wastanipun dhusun Mênang (9),
sadaya patilasan sampun sami sirna, kraton sarta pasanggrahanipun
inggih sampun botên wontên, kraton utawi patamanan Bagendhawati
ingkang kagungan Ni Mas Ratu Pagêdhongan inggih sampun sirna,
pasanggrahan Wanacatur ugi sampun sirna, namung kantun namaning
dhusun, sadaya wau sirnanipun kaurugan siti pasir sarta lahar saking
rêdi Kêlut.

(Buta Locaya menjawab, “Di sebelah timur itu, yakni di desa Menang,
semua peninggalan telah musnah, istana serta tempat pesanggrahan juga
telah tiada lagi. Istana dan taman istana Bagendhawati milik Ni Mas
Ratu Pagedhongan juga telah musnah, pesanggrahan Wanacatur juga telah
sirna, yang tertinggal adalah nama desa itu. Semua itu musnah
tertimbun tanah pasir dan lahar dari gunung Kelut.)

Kula badhe pitaken, paduka gêndhak sikara dhatêng anak putu Adam,
nyabdakakên ingkang botên patut, prawan tuwa jaka tuwa, sarta ngêlih
nami Kutha Gêdhah, ngêlih lepen, lajêng nyabdakakên ing ngriki awis
toya, punika namanipun siya-siya botên surup, sikara tanpa dosa,
saiba susahipun tiyang gêsang laki rabi sampun lungse, lajêng botên
gampil pêncaripun titahing Latawalhujwa, makatên wau saking sabda
paduka, sêpintên susahipun tiyang ingkang sami kêbênan, lepen Kadhiri
ngalih panggenan mili nrajang dhusun, wana, sabin, pintên-pintên sami
risak, ngriki paduka-sotakên, sêlaminipun awis toya, lepenipun asat,
paduka sikara botên surup, nyikara tanpa prakara”

(Sekarang saya hendak bertanya, Anda menyiksa anak cucu Adam,
mengucapkan sesuatu yang tidak patut diucapkan. [Mengutuk] orang
menjadi perawan dan perjaka tua, dan juga mengubah nama menjadi Kutha
Gedhah, memindah aliran sungai, dan selanjutnya mengutuk bahwa di
daerah ini akan susah air. Itu namanya tindakan yang tidak berguna,
menyiksa orang lain yang tak bersalah, menyebabkan susahnya kehidupan
orang lain. Lelaki susah menemukan jodohnya. Tindakan itu
bertentangan dengan titah dari Latawalhujwa. Semua itu berasal dari
kutukan Anda, begitu besarnya kesusahan orang yang kebanjiran. sungai
Kediri berubah alirannya dan menerjang desa, hutan, sawah, berapa
banyak yang rusak. Sedangkan di sini, Anda kutuk selamanya susah air,
sungainya surut. Anda itu hanya menyiksa orang lain yang tidak
bersalah.”)

Sunan Benang ngandika: “Mula ing kene tak-êlih jênêng Kutha Gêdhah,
amarga wonge kene agamane ora irêng ora putih, têtêpe agama biru,
sabab agama Kalang, mula tak-sotake larang banyu, aku njaluk banyu
ora oleh, mula kaline banjur tak-êlih iline, kene kabeh tak sotake
larang banyu, dene ênggonku ngêsotake prawan tuwa jaka tuwa, amarga
kang tak jaluki banyu ora oleh iku, prawan baleg.”

(Sunan Bonang berkata, “Tempat ini aku ganti namanya menjadi Kutha
Gedhah, karena orang di sini agamanya tidak hitam tidak putih,
tepatnya agama biru, yakni agama Kalang. Aku kutuk susah air, karena
saya minta air minum tidak boleh. Oleh karenanya, air sungainya saya
rubah alirannya. Semua yang berada di sini saya kutuk susah air. Saya
mengutuk agar orang di sini menjadi perawan dan perjaka tua, karena
tidak bersedia memberikan saya air minum, yaitu gadis perawan kurang
ajar itu.”)

Buta Locaya matur maneh: “Punika namanipun botên timbang kaliyan sot
panjênêngan, botên sapintên lêpatipun, tur namung tiyang satunggal
ingkang lêpat, nanging ingkang susah kok tiyang kathah sangêt, botên
timbang kaliyan kukumipun, paduka punika namanipun damêl mlaratipun
tiyang kathah, saupami konjuk Ingkang Kagungan Nagari, paduka inggih
dipunukum mlarat ingkang langkung awrat, amargi ngrisakakên tanah,
lah sapunika mugi panjênêngan-sotakên wangsulipun malih, ing ngriki
sagêda mirah toya malih, sagêd dados asil panggêsangan laki rabi
taksih alit lajêng mêncarakên titahipun Hyang Manon. Panjênêngan
sanes Narendra têka ngarubiru agami, punika namanipun tiyang dahwen”.

(Buta Locaya berkata lagi, “Itu namanya orang yang tanpa
pertimbangan. Kesalahan tidak seberapa, dan selain itu hanya satu
orang yang bersalah, tetapi Anda telah membuat susah orang banyak
sekali. Tidak sesuai dengan hukumannya. Anda itu namanya membuat
susah orang banyak. Seandainya diketahui yang memiliki negara, maka
Anda akan dihukum melarat sekali, karenanya merusak tanah. Sudah
begini saja, Anda tarik kembali kutukan Anda. Di sini menjadi
melimpah air kembali, sehingga bisa untuk bercocok tanah. Pria dan
wanita dapat kembali menikah pada usia mudah, sesuai dengan titah
dari Hyang Manon. Anda itu bukan Narendra (gelar Wisnu, mungkin yang
dimaksud Tuhan – penterjemah), tetapi kok datang-datang mengharubiru
agama. Itu namanya orang berengsek.”)

Sunan Benang ngandika: “Sanadyan kok-aturake Ratu Majalêngka aku ora
wêdi”.

(Sunan Bonang berkata, “Meskipun kamu laporkan Raja Majalengka saya
tidak takut.”)

Buta Locaya barêng krungu têmbung ora wêdi marang Ratu Majalêngka
banjur mêtu nêpsune, calathune sêngol: “Rêmbag paduka niki dede
rêmbage wong ahli praja, patute rêmbage tiyang entên ing bambon,
ngêndêlake dumeh tiyang digdaya, mbok sampun sumakehan dumeh
dipunkasihi Hyang Widdhi, sugih sanak malaekat, lajêng tumindak
sakarsa-karsa botên toleh kalêpatan, siya dahwen sikara botên ngangge
prakara, sanadyan ing tanah Jawi rak inggih wontên ingkang
nglangkungi kaprawiran paduka, nanging sami ahli budi sarta ajrih
sêsikuning Dewa, têbih saking ahli budi yen ngantos siya dhatêng
sêsami nyikara tanpa prakara, punapa paduka punika tiyang tunggilipun
Aji Saka, muride Ijajil.

(Buta Locaya setelah mendengar bahwa Sunan Bonang tidak takut pada
Raja Majalengka menjadi makin marah, kata-katanya menjadi
keras, “Anda itu jelas sekali tidak mencerminkan seseorang yang
bijaksana dan berbudi luhur, melainkan lebih tepat lagi disebut
dengan gelandangan (bahasa asli apabila diterjemahkan secara harafiah
adalah orang yang tinggal dalam rumah bambu- penterjemah). Beraninya
hanya mengandalkan kesaktiannya. Bersikaplah rendah hati sehingga
dikasihi oleh Hyang Widdhi, dikasihi oleh sahabat, dan bukannya
bertindak semau-maunya sendiri dengan tidak melihat kesalahannya. Itu
namanya orang jahat yang tidak menimbang dulu permasalahannya. Di
tanah Jawa ini, khan banyak orang yang kesaktiannya melebihi Anda,
namun semuanya itu berbudi luhur dan tidak berusaha mengungguli para
dewa. Mereka sama sekali tidak menyiksa orang lain tanpa melihat
kesalahannya terlebih dahulu. Mengapa Anda meniru Aji Saka, muridnya
Ijajil?)

Aji Saka dados Ratu tanah Jawi namung tigang taun lajêng minggat
saking tanah Jawi, sumbêr toya ing Mêdhang saurutipun dipunbêkta
minggat sadaya, Aji Saka tiyang saka Hindhu, paduka tiyang
saking ‘Arab, mila sami siya-siya dhatêng sêsami, sami damêl awising
toya, paduka ngakên Sunan rak kêdah simpên budi luhur, damêl wilujêng
dhatêng tiyang kathah, nanging kok jêbul botên makatên, wujud paduka
niki jajil bêlis katingal, botên tahan digodha lare, lajêng mubal
nêpsune gêlis duka, niku Sunan napa?

(Aji Saka menjadi raja tanah Jawa, tetapi tiga tahun kemudian pergi
meninggalkannya, sumber air yang ada di Medhang juga dibawanya pergi.
Aji Saka orang dari India, sedangkan Anda adalah orang Arab, karena
itu sama-sama tidak menghargai sesama manusia. Sama-sama membuat
sulit air. Anda itu mengaku-ngaku sebagai Sunan, khan seharusnya
berbudi luhur, menciptakan kebajikan bagi orang banyak, tetapi kok
malah tingkah lakunya seperti itu. Anda itu seperti iblis tingkah
lakunya. Tidak tahan digoda oleh anak kecil, lalu bangkit nafsu
angkara murkanya. Sunan macam apa itu?)

Yen pancen Sunaning jalma yêktos, mêsthi simpên budi luhur. Paduka
niksa wong tanpa dosa, nggih niki margi paduka cilaka, tandhane
paduka sapunika sampun jasa naraka jahanam, yen sampun dados, lajêng
paduka-ênggeni piyambak, siram salêbêting kawah wedang ingkang umob
mumpal-mumpal. Kula niki bangsaning lêlêmbut, sanes alam kaliyan
manusa, ewadene kula taksih engêt dhatêng wilujêngipun manusa. Inggih
sampun ta, sapunika sadaya ingkang risak kula-aturi mangsulakên
malih, lepen ingkang asat lan panggenan ingkang sami katrajang toya
kula-aturi mangsulakên kados sawaunipun, manawi panjênêngan botên
karsa mangsulakên, sadaya manusa Jawi ingkang Islam badhe sami kula-
têluh kajêngipun pêjah sadaya, kula tamtu nyuwun bantu wadya bala
dhatêng Kanjêng Ratu Ayu Anginangin ingkang wontên samodra kidul”.

(Kalau memang Anda sudah Sunan secara lahir bathin, maka seharusnya
berbudi luhur. Anda menyiksa orang tanpa dosa, yaitu karena Anda
dihina. Sehingga dengan demikian setelah ini Anda pantas masuk neraka
jahanam. Kalau sudah mati, Anda akan tinggal di sana. Dimasukkan
kawah air panas yang asapnya melimpah-limpah. Saya ini termasuk
golongan makhluk halus, dan berbeda dengan kalian yang manusia.
Karenanya saya ini masih ingat dengan kesejahteraan umat manusia. Ya
sudah, apa yang sudah rusak saya minta untuk diperbaikik kembali.
Sungai yang surut dan tempat yang rusak diterjang banjir, saya minta
dikembalikan seperti asal mulanya. Jika Anda tidak bersedia
mengembalikannya, semua orang Jawa yang sudah masuk Islam akan saya
santet agar mati semua. Saya tentu juga akan minta bala bantuan dari
Ratu Ayu Anginangin di laut selatan.”)

Sunan Benang barêng mirêng nêpsune Buta Locaya rumaos lupute, dene
gawe kasusahan warna-warna, nyikara wong kang ora dosa, mula banjur
ngandika: “Buta Locaya! aku iki bangsa Sunan, ora kêna mbaleni
caturku kang wus kawêtu, besuk yen wus limang atus taun, kali iki
bisa bali kaya mau-maune”.

(Sunan Bonang setelah mendengar nasehat Buta Locaya jadi menyadari
kesalahannya karena telah menyebabkan kesengsaraan banyak orang, maka
berkatalah ia, “Buta Locaya, saya ini Sunan, tidak dapat menarik
kembali ucapanku yang sudah keluar, besok jika telah genap lima ratus
tahun, maka sungai ini kembali seperti semula.”)

Buta Locaya barêng krungu kêsagahane Sunan Benang, banjur nêpsu
maneh, nuli matur marang Sunan Benang: “Kêdah paduka-wangsulna
sapunika, yen botên sagêd, paduka kula-banda”.

(Buta Locaya setelah mendengar penolakan Sunan Bonang menjadi marah
kembali, ia mengancam Sunan Bonang, “Harus dikembalikan sekarang
juga, jika tidak bisa, maka Anda saya tahan di sini.”)

Sunan Benang ngandika marang Buta Locaya: “Wis kowe ora kêna
mangsuli, aku pamit nyimpang mangetan, woh sambi iki tak-jênêngake
cacil, dene kok kaya bocah cilik padha tukaran, dhêmit lan wong
pêcicilan rêbut bênêr ngadu kawruh prakara rusaking tanah, sarta
susahe jalma lan dhêmit, dak-suwun marang Rabbana, woh sambi dadi
warna loro kanggone, daginge dadiya asêm, wijine mêtuwa lêngane, asêm
dadi pasêmoning ulat kêcut, dene dhêmit padu lan manusa, lênga têgêse
dhêmit mlêlêng jalma lunga. Ing besuk dadiya pasêksen, yen aku padu
karo kowe, lan wiwit saiki panggonan têtêmon iki, kang lor jênênge
desa Singkal, ing kene desa ing Sumbre, dene panggonane balamu kang
ana ing kidul iku jênênge desa Kawanguran”.

(Sunan Bonang berkata pada Buta Locaya, “Sudah, kamu tidak perlu
mengajari aku, aku pamit mau ke Magetan, buah sambi ini aku sebut
cacil, karena kok seperti anak kecil berkelahi. Makhluk halus dan
manusia berkelahi mengadu pengetahuan masalah rusaknya tanah, serta
kesengsaraan manusia dan makhluk halus. Saya akan minta pada Tuhan,
buah sambi akan menjadi dua warna, dagingnya menjadi masam, bijinya
agar keluar minyaknya. Asam itu menjadi lambang ulat masam, karena
makhluk halus bertengkar dengan manusia. Minyak artinya makhluk halus
menghalangi perginya manusia. Pada masa mendatang jadilah saksi kalau
saya bertengkar dengan kamu. Dan mulai saat ini, tempat ini yang
utara namanya desa Singkah, sedangkan yang di sini namanya Sumbre.
Sedangkan tempat berkumpulnya pasukanmu di bagian selatan namanya
dewa Kawanguran.”)

Sunan Benang sawuse ngandika mangkono banjur mlumpat marang wetan
kali, katêlah nganti tumêka saprene ing tanah Kutha Gêdhah ana desa
aran Kawanguran, Sumbre sarta Singkal, Kawanguran têgêse kawruhan,
Singkal têgêse sêngkêl banjur nêmu akal.

(Setelah berkata demikian, Sunan Bonang lalu melompat ke timur
sungai. Hingga saat ini di Kutha Gedhah ada desa bernama Kawanguran,
Sumbre, dan Singkal. Kawanguran artinya pengetathuan. Singkah artinya
menemukan akal budi.)

Buta Locaya nututi tindake Sunan Benang. Sunan Benang tindake têkan
ing desa Bogêm, ana ing kono Sunan Benang mriksani rêca jaran, rêca
mau awak siji êndhase loro, dene prênahe ana sangisoring wit
trênggulun, wohe trênggulun mau akeh bangêt kang padha tiba nganti
amblasah, Sunan Benang ngasta kudhi, rêca jaran êndhase digêmpal.

(Buta Locaya mengikuti perginya Sunan Bonang. Sunan Bonang tiba di
desa Bogem, di sana ia melihat ada patung kuda yang berbadan satu
tetapi berkepala dua. Letaknya ada di bawah pohon trenggulun. Buah
trenggulun itu banyak sekali hingga menggunung tinggi. Sunan Bonang
lalu menghancurkan kepala patung kuda itu.)

Buta Locaya barêng wêruh patrape Sunan Benang anggêmpal êndhasing
rêca jaran, saya wuwuh nêpsune sarta mangkene wuwuse: “Punika
yasanipun sang Prabu Jayabaya, kangge pralambang ing tekadipun wanita
Jawi, benjing jaman Nusa Srênggi, sintên ingkang sumêrêp rêca punika,
lajêng sami mangrêtos tekadipun para wanita Jawi”

(Setelah melihat Sunan Bonang menghancurkan kepala patung kuda, maka
bangkit kembali kemarahan Buta Locaya. Ia berkata, “Itu adalah
peninggalan sang Prabu Jayabaya, sebagai lambang tekadnya wanita
Jawa. Besok di jaman Nusa Srenggi, siapa saja yang melihat patung itu
akan sama-sama memahami tekad para wanita Jawa.”)

Sunan Benang ngandika: “Kowe iku bangsa dhêmit kok wani padu karo
manusa, jênênge dhêmit kêmênthus”.

(Sunan Bonang menjawab, “Kamu itu bangsa makhluk halus, kok berani
bertengkar dengan manusia. Itu namanya makhluk halus sombong.”)

Buta Locaya mangsuli: “Inggih kaot punapa, ngriku Sunan, kula Ratu”.

(Buta Locaya berkata, “Lalu kenapa memangnya? Anda Sunan, saya raja.”)

Sunan Benang ngandika: “Woh trênggulun iki tak-jênêngake kênthos,
dadiya pangeling-eling ing besuk, yen aku kêrêngan karo dhêmit
kumênthus, prakara rusaking rêca”.

(Sunan Bonang berkata, “Buah trenggulun ini aku namakan kenthos,
sehingga menjadi peringatan di masa mendatang kalau aku bertengkar
dengan makhluk halus sombong masalah rusaknya patung.”)

Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene, woh trênggulun
jênênge kênthos, awit saka sabdane Sunan Benang, iku pituture Raden
Budi Sukardi, guruku”.

(Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga sekarang, buah trenggulun namanya
kenthos, karena berasal dari sabda Sunan Bonang. Itu adalah
pemberitahuan dari guruku Raden Budi Sukardi.”)

Sunan Benang banjur tindak mangalor, barêng wis wanci asar, kêrsane
arêp salat, sajabane desa kono ana sumur nanging ora ana timbane,
sumure banjur digolingake, dene Sunan Benang sawise, nuli sagêd
mundhut banyu kagêm wudhu banjur salat.

(Sunan Bonang lalu pergi ke arah utara. Pada saat itu telah waktunya
salat asar dan ia hendak menunaikan ibadah salat. Di luar desa itu
ada sumur, tetapi tidak ada ember untuk menimba air, karena itu Sunan
Bonang menggulingkan sumur itu sehingga ia bisa menggambil air dari
dalamnya.)

Ki Kalamwadi ngandika: “Katêlah nganti saprene sumur mau karane sumur
Gumuling, Sunan Benang kang anggolingake, iku pituture Raden Budi
guruku, êmbuh bênêr lupute”.

(Ki Kalamwadi menjelaskan, “Hingga saat ini sumur itu disebut sumur
Gumuling. Sunan Bonang yang menggulingkannya. Itu katanya Raden Budi
guruku, entah benar entah tidak.”)

Sunan Benang sawise salat banjur nêrusake tindake, satêkane desa
Nyahen (10) ing kona ana rêca buta wadon, prênahe ana sangisoring wit
dhadhap, wêktu iku dhadhape pinuju akeh bangêt kêmbange, sarta akeh
kang tiba kanan keringe rêca buta mau, nganti katon abang mbêranang,
saka akehe kêmbange kang tiba, Sunan Benang priksa rêca mau gumun
bangêt, dene ana madhêp mangulon, dhuwure ana 16 kaki, ubênge
bangkekane 10 kaki, saupama diêlih saka panggonane, yen dijunjung
wong wolung atus ora kangkat, kajaba yen nganggo piranti, baune
têngên rêca mau disêmpal dening Sunan Benang, bathuke dikrowak.

(Setelah salat maka Sunan Bonang meneruskan perjalanannya, dan tiba
di desa Nyahen. Di sana ada patung raksasa wanita yang terletak di
bawah pohon dadap. Pada saat itu kebetulan pohon dadapnya sedang
banya bunganya dan banyak yang berjatuhan di kanan dan kirinya patung
raksasa itu sehingga nampak merah merona. Sunan Bonang melihat arca
yang tingginya 16 kaki dan lingkarnya 10 kaki. Apabila diangkat orang
800 juga masih belum terangkat. Bahu kanan patung tersebut
dihancurkan oleh Sunan Bonang dan selain itu dahinya juga dirusak.)

Buta Locaya wêruh yen Sunan Benang ngrusak rêca, dheweke nêpsu maneh,
calathune: “Panjênêngan nyata tiyang dahwen, rêca buta bêcik-bêcik
dirusak tanpa prakara, sa-niki awon warnine, ing mangka punika
yasanipun Sang Prabu Jayabaya, lah asilipun punapa panjênêngan
ngrisak rêca?”

(Buta Locaya mengetahui tindakan Sunan Bonang merusak patung itu,
timbul amarahnya kembali, “Anda itu benar-benar orang brengsek.
Patung bagus-bagus kok dirusak tanpa sebab. Patung itu adalah
peninggalan Sang Prabu Jayabaya, lalu mengapa Anda rusak?”)

Pangandikane Sunan Benang: “Mulane rêca iki tak-rusak, supaya aja
dipundhi-pundhi dening wong akeh, aja tansah disajeni dikutugi, yen
wong muji brahala iku jênênge kapir kupur lair batine kêsasar.”

(Jawaban Sunan Bonang, “Arca ini saya rusak supaya jangan disembah-
sembah oleh orang banyak, supaya jangan dimantrai. Yang menyembah
patung itu namanya kafir. Lahir dan bathinnya tersesat.”)

Celathu Buta Locaya (Rengeng rengeng lirih ngantuk)

Buta Locaya calathu maneh: “Wong Jawa rak sampun ngrêtos, yen punika
rêca sela, botên gadhah daya, botên kuwasa, sanes Hyang Labawalhujwa,
mila sami dipunladosi, dipunkutugi, dipunsajeni, supados para
lêlêmbut sampun sami manggen wontên ing siti utawi kajêng, amargi
siti utawi kajêng punika wontên asilipun, dados têdhanipun manusa,
mila para lêlêmbut sami dipunsukani panggenan wontên ing rêca,
panjênêngan-tundhung dhatêng pundi?

(Buta Locaya mengomel lagi, “Orang Jawa itu khan sudah tahu, bahwa
itu hanya sebuah arca batu, tidak punya daya apa-apa, tidak punya
kekuasaan apa, bukan Hyang Labawalhujwa, karena itu dimantrai dan
diberi sesajian, supaya para makhluk halus yang dulunya tinggal di
tanah atau kayu – karena tanah dan kayu itu dimanfaatkan bagi
manusia – maka para makhluk halus itu diberi tempat tinggal di dalam
arca. Anda itu tahu nggak sih?)

Sampun jamakipun brêkasakan manggen ing guwa, wontên ing rêca, sarta
nêdha ganda wangi, dhêmit manawi nêdha ganda wangi badanipun kraos
sumyah, langkung sênêng malih manawi manggen wontên ing rêca wêtah
ing panggenan ingkang sêpi edhum utawi wontên ngandhap kajêng ingkang
agêng, sampun sami ngraos yen alamipun dhêmit punika sanes kalayan
alamipun manusa, manggen wontên ing rêca têka panjênêngan-sikara,
dados panjênêngan punika têtêp tiyang jail gêndhak sikara siya-siya
dhatêng sasamining tumitah, makluking Pangeran. Aluwung manusa Jawa
ngurmati wujud rêca ingkang pantês simpên budi nyawa, wangsul tiyang
bangsa ‘Arab sami sojah Ka’batu’llah, wujude nggih tugu sela, punika
inggih langkung sasar”.

(Sudah wajar kalau para makhluk halus tinggal di gua dan patung.
Selain itu mereka makan bau harum. Makhluk halus itu apabila makan
bau harum, badannya terasa segar. Mereka betah tinggal di patung-
patung batu yang berada di tempat sepi atau yang berada di depan
pohon besar. Apakah Anda sudah pernah merasakan hidup di alam makhluk
halus yang berbeda dengan alam manusia? Mereka yang hidup di dalam
patung baru, Anda siksa, jadi karena itu Anda patut disebut orang
jahil. Orang yang gemar berbuat seenaknya sendirinya terhadap sesama
makhluk Tuhan. Lebih baik orang Jawa yang menghormati patung demi
menguntungkan para makhluk halus, dibandingkan dengan orang Arab yang
menyembah Ka’bah. Wujudnya juga tugu batu, sehingga seharusnya mereka
juga sesat.”)

Pangandikane Sunan Benang: Ka’batu’llah iku kang jasa Kangjêng Nabi
Ibrahim, ing kono pusêring bumi, didelehi tugu watu disujudi wong
akeh, sing sapa sujud marang Ka’batu’llah, Gusti Allah paring
pangapura lupute kabeh salawase urip ana ing ‘alam pangumbaran”.

(Sunan Bonang menjawab, “Ka’bah itu ada karena jasanya Nabi Ibrahim,
di situ terletak pusatnya bumi. Dibangun tugu dan disembah orang
banyak. Siapa saja yang bersujud pada Ka’bah, Allah akan mengampuni
dosanya selama hidup di dunia.”)

Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Tandhane napa yen angsal sihe
Pangeran, angsal pangapuntên sadaya kalêpatanipun, punapa sampun
angsal saking Pangeran Kang Maha Agung tapak asta mawi cap abrit?

(Buta Locaya menjawab dengan marah, “Buktinya apa kalau mereka
beroleh pengampunan dosa dari Tuhan, memperoleh pengampunan dari
semua kesalahan. Apakah sudah memperoleh tanda tangan dan cap dari
Tuhan?”)

Sunan Benang ngandika maneh: “Kang kasêbut ing kitabku, besuk yen
mati oleh kamulyan”.

(Sunan Bonang berkata lagi, “Itu semua disebut dalam kitabku. Besok
kalau meninggal akan beroleh kemuliaan.”)

Buta Locaya mangsuli karo mbêkos: “Pêjah malih yen sumêrêpa, kamulyan
sanyata wontên ing dunya kemawon sampun korup, sasar nyêmbah tugu
sela, manawi sampun nrimah nêmbah curi, prayogi dhatêng rêdi Kêlut
kathah sela agêng-agêng yasanipun Pangeran, sami maujud piyambak
saking sabda kun, punika wajib dipunsujudi. Saking dhawuhipun Ingkang
Maha Kuwaos, manusa sadaya kêdah sumêrêp ing Batu’llahipun, badanipun
manusa punika Baitu’llah ingkang sayêktos, sayêktos yen yasanipun
Ingkang Maha Kuwaos, punika kêdah dipunrêksa, sintên sumêrêp asalipun
badanipun, sumêrêp budi hawanipun, inggih punika ingkang kenging
kangge tuladha.

(Buta Locaya menjawab dengan tidak senang hati, “Ketahuilah,
kemuliaan yang ada di dunia ini sudah ternoda, orang tersesat
menyembah tugu batu, ketika mereka sudah melakukan kejahatan. Di
Gunung Kelut banyak batu besar-besar hasil ciptaan Tuhan, kesemuanya
itu terwujud berdasarkan Sabda Allah, itulah yang sesungguhnya lebih
pantas disembah. Berdasarkan izin Yang Maha Kuasa, seluruh umat
manusia harus mengetahui mengenai Ka’bah sejati, tubuh manusia itulah
Ka’bah sejati. Sejati karena ciptaannya Yang Maha Kuasa. Inilah yang
harus diperhatikan. Siapa yang sadar akan asal usulnya, mengetahui
akal budinya, yaitu yang sanggup dijadikan suri tauladan.)

Sanadyan rintên dalu nglampahi salat, manawi panggenanipun raga
pêtêng, kawruhipun sasar-susur, sasar nêmbah tugu sela, tugu damêlan
Nabi, Nabi punika rak inggih manusa kêkasihipun Gusti Allah, ta,
pinaringan wahyu nyata pintêr sugih engêtan, sidik paningalipun
têrus, sumêrêp cipta sasmita ingkang dereng kalampahan. Dene ingkang
yasa rêca punika Prabu Jayabaya, inggih kêkasihipun Ingkang Kuwaos,
pinaringan wahyu mulya, inggih pintêr sugih engêtan sidik
paningalipun têrus, sumêrêp saderengipun kalampahan, paduka pathokan
tulis, tiyang Jawi pathokan sastra, bêtuwah saking lêluhuripun. sami-
sami nyungkêmi kabar, aluwung nyungkêmi kabar sastra saking
lêluhuripun piyambak, ingkang patilasanipun taksih kenging
dipuntingali. Tiyang nyungkêmi kabar ‘Arab, dereng ngrêtos
kawontênanipun ngrika, punapa dora punapa yêktos, anggêga ujaripun
tiyang nglêmpara.

(Meskipun siang dan malam menjalankan salat, tetapi apabila
pikirannya gelap, pengetahuannya amburadul, menyembah tugu batu yang
dibuat nabi. Nabi itu khan juga manusia kekasih Allah, diberi wahyu
sehingga menjadi pandai dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi.
Sedangkan yang membangun arca batu itu adalah Prabu Jayabaya, yang
juga merupakan kekasih Allah. Ia juga menerima wahyu mulia, juga
banyak pengetahuannya dan sanggup mengetahui apa yang akan terjadi.
Anda berpedoman pada kitab, sedangkan orang Jawa berpedoman pada
sastra kuno, petuah dari leluhur sendiri. Lebih baik mempercayai
sastra kuno dari leluhur sendiri yang peningggalannya masih dapat
disaksikan. Orang mempercayai kitab Arab, padahal belum tahu keadaan
di sana, entah benar entah salahnya, hanya percaya perkataannya para
penipu.)

Sunan Bonang dan Buta Locaya Gegeran (Rengeng rengeng lirih ngantuk)

Mila panjênêngan anganjawi, nyade umuk, nyade mulyaning nagari Mêkah,
kula sumêrêp nagari Mêkah, sitinipun panas, awis toya, tanêm-tanêm
tuwuh botên sagêd mêdal, bênteripun banter awis jawah, manawi tiyang
ingkang ahli nalar, mastani Mêkah punika nagari cilaka, malah kathah
tiyang sade tinumbas tiyang, kangge rencang tumbasan. Panjênêngan
tiyang duraka, kula-aturi kesah saking ngriki, nagari Jawi ngriki
nagari suci lan mulya, asrêp lan bênteripun cêkapan, tanah pasir
mirah toya, punapa ingkang dipuntanêm sagêd tuwuh, tiyangipun jalêr
bagus, wanitanipun ayu, madya luwês wicaranipun. Rêmbag panjênêngan
badhe priksa pusêring jagad, inggih ing ngriki ingkang kula-linggihi
punika, sapunika panjênêngan ukur, manawi kula lêpat panjênêngan
jotos.

(Anda menjual kemuliaannya negeri Mekah. Padahal saya tahu seperti
apa sebenarnya Mekah. Tanahnya panas, susah air, tanaman tidak bisa
tubuh, serta jarang hujan. Orang yang sanggup bernalar akan menyebut
Mekah itu negeri celaka. Malah banyak orang yang diperjual-belikan
sebagai budak. Anda itu orang durhaka. Saya minta untuk pergi dari
sini, negeri Jawa yang suci dan mulia, cukup hujan dan air, apa yang
ditanam dapat tumbuh, yang pria tampan, yang wanita cantik. Bicaranya
juga luwes. Kalau Anda bicara masalah pusatnya jagad, maka tempat
yang saya duduki inilah yang merupakan pusat jagad. Silakan Anda
ukur, bila salah pukullah saya.)

Rêmbag panjênêngan punika mblasar, tandha kirang nalar, kirang nêdha
kawruh budi, rêmên niksa ing sanes. Ingkang yasa rêca punika Maha
Prabu Jayabaya, digdayanipun ngungkuli panjênêngan, panjênêngan
punapa sagêd ngêpal lampahing jaman? Sampun ta, kula-aturi kesah
kemawon saking ngriki, manawi botên purun kesah sapunika, badhe kula-
undhangakên adhi-kula ingkang wontên ing rêdi Kêlut, panjênêngan kula-
kroyok punapa sagêd mênang, lajêng kula-bêkta mlêbêt dhatêng
kawahipun rêdi Kêlut, panjênêngan punapa botên badhe susah, punapa
panjênêngan kêpengin manggen ing sela kados kula? Mangga dhatêng
Selabale, dados murid kula!”.

(Anda itu seperti orang tidak waras, pertanda kurang nalar, kurang
memakan pengetahuan akal budi, senang menyiksa orang lain. Yang
membuat arca itu Maha Prabu Jayabaya, yang kesaktiannya melebihi
Anda. Anda apa sanggup mengetahui apa yang akan terjadi? Sudahlah,
saya minta Anda pergi saja dar sini. Jika tidak mau pergi dari sini,
maka akan saya panggilkan adik saya dari Gunung Kelut. Anda saya
keroyok apa bisa menang? Lalu akan saya bawa ke dalam kawah Gunung
Kelut. Apakah Anda tidak sengsara? Apakah Anda ingin berdiam dalam
batu seperti saya? Kalau mau silakan datang ke Selabale, jadi murid
saya!”)

Sunan Benang ngandika: “Ora arêp manut rêmbugmu, kowe setan
brêkasakan”.

(Sunan Bonang berkata, “Saya tidak mau mengikuti perkataanmu, wahai
setan iblis.”)

Buta Locaya mangsuli: “Sanadyan kula dhêmit, nanging dhêmit raja,
mulya langgêng salamine, panjênêngan dereng tamptu mulya kados kula,
tekad panjênêngan rusuh, rêmên nyikara niaya, mila panjênêngan
dhatêng tanah Jawi, wontên ing ‘Arab nakal kalêbêt tiyang awon, yen
panjênêngan mulya tamtu botên kesah saking ‘Arab, mila minggat,
saking lêpat, tandhanipun wontên ing ngriki taksih krejaban, maoni
adating uwong, maoni agama, damêl risak barang sae, ngarubiru agamane
lêluhur kina, Ratu wajib niksa, mbucal dhatêng Mênadhu”.

(Buta Locaya menjawab, “Meskipun saya makhluk halus, tetapi raja
makhluk halus. Mulia dan abadi selamatnya. Anda belum tentu mulia
seperti saya. Niat Anda buruk, gemar menyiksa orang lain. Oleh karena
itu Anda datang ke tanah Jawa. Di Arab Anda tergolong orang hina.
Jika Anda orang mulia maka tidak akan pergi meninggalkan Arab, karena
salah maka melarikan diri dari sana. Buktinya di sni membuat onar,
menghina adat istiadat orang lain, menghina agama, merusak barang
yang bagus, mengharubiru agama leluhur kuno. Raja wajib menyiksa dan
membuang Anda.”)

Sunan Benang ngandika: “Dhadhap iki kêmbange tak jênêngake celung,
uwohe kledhung, sabab aku kêcelung nalar lan kêledhung rêmbag, dadiya
pasêksen yen aku padu lan ratu dhêmit, kalah kawruh kalah nalar”.

(Sunan Bonang berkata, “Pohon dadap ini bunganya aku beri nama
celung, buahnya kledhung, karena aku kalah nalar dan kalah
pembicaraan. Jadilah saksi bila aku bertengkar dengan raja makhluk
halus dan kalah pengetahuan serta nalar.”)

Mula katêlah nganti tumêka saprene, woh dhadhap jênênge kledhung,
kêmbange aran celung.

(Oleh karena itu hingga sekarang, buah dadap, namanya kledhung,
bunganya dinamakan celung.)

Sunan Benang banjur pamitan: “Wis aku arêp mulih mênyang Benang”.

(Sunan Bonang lalu berpamitan, “Sudah saya akan pulang ke Bonang.”)

Buta Locaya mangsuli karo nêpsu: “Inggih sampun, panjênêngan enggala
kesah, wontên ing ngriki mindhak damêl sangar, manawi kadangon wontên
ing ngriki mindhak damêl susah, murugakên awis wos, nambahi bênter,
nyudakakên toya”.
Sunan Benang banjur tindak, dene Buta Locaya sawadya-balane uga
banjur mulih.

(Buta Locaya menjawab dengan marah, “Ya sudah, pergilah cepat-cepat.
Di sini membuat susah saja. Makin lama makin membuat susah saja.
Membuat susah air, menyebabkan kekeringan.” Sunan Bonang meninggalkan
tempat itu dan Buta Locaya beserta pasukannya juga pulang
meninggalkan tempat itu.)

%d blogger menyukai ini: